"Oh, bukan ASN-nya yang menjadi tekanan, tetapi kepakarannya. Dan kita akan menerima masukan dari para ahli dengan latar belakang apa pun," ungkap Direktur Materi dan Debat BPN Prabowo-Sandiaga, Sudirman Said, kepada wartawan, Selasa (29/1/2019).
Sudirman Said sempat mengungkap terdapat sejumlah pakar yang membantu Prabowo-Sandiaga untuk mempersiapkan debat pilpres kedua. Sebagian dari pakar itu merupakan dosen dan ada juga yang PNS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Justru karena ASN itu menjaga etika, dan kami jaga etika dan netralitas, maka identitasnya tidak kita kemukakan ke publik," sebut Sudirman Said.
Menurut politikus Gerindra ini, sejumlah pakar yang membantu Prabowo-Sandiaga berasal dari dunia akademisi. Namun kebanyakan, kata Sudirman Said, merupakan dosen yang statusnya adalah PNS.
"Banyak ahli di kampus Perguruan Tinggi Negeri kan status kepegawaiannya aparat sipil negara. Sayang kalau kita tidak mendengar pandangan mereka hanya karena status kepegawaiannya," tutur eks Menteri ESDM itu.
Meski begitu, Sudirman Said menegaskan pakar ASN yang membantu Prabowo-Sandiaga tidak melakukan politik praktis. Kubu pasangan nomor urut 02 itu mendapat bantuan dari segi kepakarannya.
"Sebagai ASN mereka tidak berpolitik praktis. Tetapi sebagai insan akademik pemikirannya harus kita dengar dan manfaatkan. Mereka aset negara, bukan milik satu golongan," ucap Sudirman Said.
Sebelumnya, diberitakan, juru bicara TKN Jokowi-Ma'ruf, Ace Hasan Syadzily, mempersoalkan pihak Prabowo-Sandiaga yang memanfaatkan ASN sebagai pakar untuk membantunya. Ia mengingatkan ASN atau PNS harus netral dalam politik.
Simak Juga 'BPN Prabowo-Sandi Usul Debat Model 'Tarung Bebas'':
Ikuti perkembangan Pemilu 2019 hanya di sini (elz/fjp)











































