Terminal BBM Cilacap dan Balongan Rawan Penyelundupan
Senin, 12 Sep 2005 21:03 WIB
Jakarta - Menyusul terungkapnya penyelundupan BBM di Terminal BBM Lawe-lawe, Kalimantan Timur, Terminal BBM di Cilacap dan Balongan pun berpotensi besar dan rawan terjadi penyelundupan. "Saya menganggap Cilacap dan Balongan rawan, maka siang ini saya kumpulkan para GM (general manager) Pertamina untuk mendapat report untuk masing-masing daerah," tegas Dirut Pertamina WidyaPurnama saat konferensi pers di Gedung Pusat Pertamina, Jl Perwira, Jakarta, Senin (12/9/2005).Terungkapnya penyelundupan BBM telah membuat 12 karyawan Pertamina dipecat. Namun Widya mengungkapkan tampaknya pemecatan masih akan terjadi menyusul adanya puluhan karyawan lain yang diduga ikut terlibat."Mereka katakan telah terjadi lima kali penyelundupan, satu yang tertangkap, bila satu kapal berisi 10 orang jadi akan ada 40 orang lagi. Saya sudah nafsu benar untuk main pecat, saya akan pasang badan bila ada yang tidak terima dipecat, kalau ada GM yang tidak berani memecat, GM itulah yang akan dipecat," geram Widya.Masih dengan nada emosi Widya menambahkan di perusahaannya terdapat satuan pengawas intern yang membawahi manajer internal audit daerah yang seharusnya mengetahui area tanggung jawabnya telah melakukan penyalahgunaan."Manajer internal audit daerah harus bertanggung jawab kalau ternyata mereka tahu ada penyalahgunaan tapi diam saja karena berarti dia terlibat," jelas Widya.Sementara itu mengenai stok BBM, menurut Widya, ada kejanggalan dari posisi stok BBM hari ini dengan kondisi kelangkaan BBM di berbagai daerah. Stok BBM saat ini meraih rekor tertinggi yaitu 22,7 hari, ternyata di beberapa SPBU masih kekurangan."Saat ini stok tertinggi selama saya jadi dirut tapi kok bisa SPBU kekurangan, menurut saya karena jatah SPBU tersebut jatahnya 10 ribu liter lalu kehabisan masa kita kasih 30 ribu liter, pasti ada yang menimbun terkait rencana kenaikan BBM," kata Widya.Mengenai jumlah kerugian negara yang mencapai Rp 8,8 triliun akibat penyelundupan BBM, menurut Widya itu bukan angka fakta tapi merupakan asumsi total perkiraan kerugian negara apabila terjadi penyelundupan setiap hari dan angka itu bukan angka kerugian penyelundupan di Terminal Lawe-lawe.Sementara itu Widya juga mengomentari usulan beberapa kalangan untuk mengaudit pertamina untuk menghitung biaya pokok BBM terkait rencana kenaikan BBM, Widaya mempersilahkan untuk diaudit."Selama ini orang bertanya-tanya biaya pokok Pertamina, saya beritahu ya harga solar US$ 70 per barel atau Rp 700 ribu, satu barel 159 liter jadi Rp 700 ribu dibagi 159 sama dengan Rp 5.000, itu saja tanpa biaya pengolahan Pertamina," jelas Widya.
(ddn/)











































