Penyelundupan BBM Marak, TNI AL Dumai Perketat Selat Malaka
Senin, 12 Sep 2005 16:56 WIB
Pekanbaru -
Maraknya aksi penyelundupan BBM dari kawasan Selat Malaka membuat Pangkalan TNI AL Dumai memperketat pengamanan di jalur pelayaran internasional itu. Sedikitnya sepuluh kapal patroli dikerahkan.Komandan Pangkalan Angkatan Laut (Danlanal) Kolonel Alex A Kekung mengungkapkan hal itu saat dihubungi detikcom, Senin (12/09/2005). Menurut dia, sepuluh kapal patroli sudah diintensifkan di kawasan Selat Malaka sejak beberapa hari lalu."Kalau selama ini kapal-kapal patroli kita bekerja dengan sitem tiga hari kerja ( di laut-red) hari libur tiga (di darat), kini semakin ditingkatkan menjadi 4 hari kerja dua hari libur. Hari yang kita tetapkan itu sudah cukup maksimal, mengingat kapal-kapal patroli kita juga sudah banyak yang tua," kata Alex.Alex menjelaskan, selain menurunkan timnya dalam pengamanan ini, pihaknya juga dibantu Guskamla Armada Barat dan dari Jakarta. Untuk masing-masing kapal patroli milik TNI AL Dumai, diperkirakan untuk satu kapal hanya mampu membawa 8 personel. "Sepuluh kapal patroli kita ini yang saban hari silih berganti melakukan pengamanan di Selat Malaka," kata Alex.Mengingat TNI AL di bawah Pangkalan Utama TNI AL Wilayah I Medan, maka wilayah tugasnya hanya mencakup perbatasan Riau dengan Kepulauan Riau (Kepri) dan sebagian lagi perbatasan dengan Kabupaten Asahan Sumatera Utara. Wilayah laut yang menjadi fokus utama itu dari perairan Bengkalis sampai ke perbatasan perairan Sumut.Selain memantau adanya aksi penyelundupan BBM ke luar negeri, masih menurut Alex, pihaknya juga mengintensifkan maraknya penyelundupan gula ilegal dari berbagai negara yang biasa dibawa dari Malaysia. "Kita juga mengintensifkan soal penyelundupan gading sapi ilegal dan illegal logging," katanya.Jalur internasional selama ini dikenal paling rawan akan aksi penyelundupan serta perompakan di tengah laut. Kasus yang terjadi dalam pekan ini misalnya, jajaran TNI AL Batam bersama Kapal Patroli Armada Barat berhasil membekuk kapal berbendara Korea Utara milik pengusaha asal Singapura yang mengangkut BBM dari Kalimantan.Kapal milik Singapura mengangkut 3.000 kilo liter BBM, diketahui tidak memiliki Izin Surat Berlayar. BBM itu sendiri rencananya akan ditampung di Singapura yang selanjutnya akan dijual kembali ke Cina. Kini seluruh awak kapal yang merupakan warga negara Indonesia itu masih terus diperiksa TNI AL Batam.
(asy/)










































