Demokrat Nilai Visi-Misi Prabowo-Sandi Lebih Realistis

Demokrat Nilai Visi-Misi Prabowo-Sandi Lebih Realistis

Tia Reisha - detikNews
Selasa, 22 Jan 2019 21:33 WIB
Demokrat Nilai Visi-Misi Prabowo-Sandi Lebih Realistis
Kepala Divisi Advokasi dan Hukum Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean (Nurin/detikcom)
Jakarta - Seusai debat Pilpres 2019 putaran pertama, politikus Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean menilai visi-misi Prabowo-Sandi untuk memperbaiki kesejahteraan aparatur negara agar tidak korupsi jauh lebih realistis daripada revolusi mental ala Joko Widodo (Jokowi).

Dalam acara Koalisi Berbicara 'Cuma Janji atau Indonesia Menang' di Prabowo-Sandi Media Center, Jalan Sriwijaya I, di Jakarta Selatan, ia juga mengatakan kondisi ekonomi dan karakter merupakan penyebab korupsi.

"Sumber dari korupsi adalah ekonomi, baru kedua karakter. Permasalahan ekonomi harus diselesaikan lebih dulu karena masalah karakter tidak mudah. Walaupun 2014 revolusi mental, sekarang tidak ada hasilnya," kata Ferdinand dalam keterangan tertulis, Selasa (22/1/2019).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Ferdinand mengatakan visi Prabowo-Sandi dalam pemberantasan terorisme juga patut diacungi jempol. Menurutnya, Prabowo adalah orang pertama yang membentuk satuan khusus antiteror di Indonesia. Satuan itu berada di bawah kendalinya saat menjabat sebagai Komandan Jenderal Kopassus.

Dalam perkara penegakan hukum, Ferdinand menyebut Prabowo-Sandi jauh lebih tegas daripada Jokowi-Amin. Dalam debat perdana capres, Ketua Umum Partai Gerindra itu menyatakan akan memimpin penegakan hukum di Indonesia bila mendapatkan mandat dari rakyat pada Pilpres 2019.

"Ini presiden menghindar, bilang 'laporkan saja, laporkan saja'. Sementara Pak Prabowo menyatakan beliau akan memimpin penegakan hukum untuk mewujudkan negara yang berkeadilan," lanjut Ferdinand.


Sementara itu, menurut Ferdinand, calon presiden petahana Joko Widodo (Jokowi) dinilai kehilangan momentum di debat capres yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Hotel Bidakara, Jakarta. Bukannya memperkuat visi-misi, lanjutnya, Jokowi justru kembali obral janji untuk menghadapi pilpres pada 17 April 2019.

"Saya harus menyebut Jokowi kemarin hanya beretorika semata, tidak ada yang nyata. Di sektor penegakan hukum, pemberantasan korupsi, terorisme, semua retorika. Bertolak belakang dengan apa yang dilakukan," beber Ferdinand. (prf/ega)


Berita Terkait