Gubernur Alokasikan Sebagian USD 10 Turis ke Bali untuk 'Uang Bau'

Aditya Mardiastuti - detikNews
Selasa, 22 Jan 2019 15:41 WIB
Foto: Pantai Sanur (andi/detikcom)
Denpasar - Masalah pengelolaan sampah masih menjadi masalah di Bali. Gubernur Bali I Wayan Koster pun bercerita susahnya mengelola sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung, TPA terbesar di Bali.

Koster mengatakan pihaknya berencana untuk mengelola TPA Suwung. Anggaran pengelolaan itu rencananya akan diambil dari hasil kontribusi wisatawan asing sebesar USD 10.

"Salah satunya, akan kita gunakan untuk menangani pengelolan TPA Suwung nantinya. Dibiarin begitu saja, TPA Suwung di jalur strategis lagi," kata Koster saat di DPRD Bali, Jl Dr Kusuma Atmaja, Denpasar, Bali, Selasa (22/1/2019).


Koster mengaku prihatin dengan polusi udara dan juga pencemaran di kawasan Suwung. Dia berharap masalah itu bisa segera diselesaikan.

"Baunya masuk perkampungan di desa Pedungan. Saya ke sana baunya ya ampun. Tiap hari warganya cium-cium bau seperti itu, nggak sehat, apalagi wisatawannya. Ini dibiarin coba, buat saya ini harus diselesaikan cepat. Rapat dalam waktu sesingkat-singkatnya kemarin diputuskan 29 yang akan datang, selesai itu," tegasnya.

Koster juga berencana untuk memungut kompensasi dari Pemda Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan terkait pengelolaan sampah tersebut.

"Dengan beban biaya yang jauh lebih ringan saya akan berbicara supaya ini akan dikompensasi juga dari APBD-nya, supaya APBD-nya lebih kecil. Yang paling banyak buang sampah Denpasar, Badung, di Sarbagita itu, Gianyar, Tabanan. Kan itu yang buang-buang sampah, bertahun-tahun dibiarin coba? Gimana tanggung jawab lingkungan ini?" tuturnya.

"Saya capek ngomong kalau orangnya nggak datang, mending saya cari uang sendiri supaya cepet selesai dan saya punya cara dari itu. Saya cari dukungan dari kementerian untuk menyelesaikan itu," sambung Koster.

Dia pun mengaku malu dengan masalah tersebut. Apalagi banyak orang lalu-lalang di jalan By Pass I Gusti Ngurah Rai yang berdekatan dengan TPA Suwung.

"Malu pak kalau nggak selesai, siapa yang nggak lewat sana itu. Harus kita selesaikan, begitu juga pencemaran danau, sungai, pantai harus terpecahkan secara terprogram, sistematis dan berkelanjutan. Butuh anggaran ke depan, menurut saya kita membutuhkan sumber pendanaan yang harus kita gali dari sisi kita sendiri?" urainya.

Koster pun berharap para anggota dewan bisa mendukung Ranperda kontribusi Wisatawan untuk Pelestarian Lingkungan Alam dan Budaya Pelestarian Alam dan Budaya Bali sebesar USD 10. Sebab, dana kontribusi tersebut bakal digunakan untuk mendukung pariwisata berkualitas.

"Kita betul-betul harus menempatkan desa adat, alam, gunung agung dengan pura besakihnya dan gunung batur dengan danau batur dan pura-pura dengan danau yang indah itu harus kita jaga baik-baik, dengan tradisi upacara yang menyatu antara adat budayanya. Ini yang unik di Bali, ini yang membawa aura yang kuat, taksu yang kuat menyedot orang ke Bali," pesannya.

"Kalau dulu sejarahnya namanya padma buana, Bali jadi pusat peradaban dunia, itu dulu, sekarang tergores, tercemar, terdegradasi maka kita sekarang harus konservasi, restorasi danrevitalisasi untuk semua aspek yang berkaitan dengan manusia, alam dan budayanya. Kalau dengan PAD Rp 3 T sontoloyo, habis kita, macet di mana-mana. Kita harus berskenario dari politik anggaran, ini yang betul-betul perlu saya sampaikan ke bapak-ibu sekalian," pungkasnya. (ams/asp)