Israel Akhirnya Cabut dari Gaza
Minggu, 11 Sep 2005 23:05 WIB
Jakarta - Israel resmi mengumumkan berakhirnya pemerintahan militer di Jalur Gaza. Tentara Israel meninggalkan jalur Gaza setelah 38 tahun menduduki wilayah itu.Namun kabinet Israel tidak sepakat untuk menghancurkan lebih dari 20 sinagoga di Gaza. Sinagoga adalah gedung tempat berkumpulnya orang Yahudi. Kabinet menentang penghancuran sinagoga setelah para rabbi mengatakan penghancuran gedung-gedung itu akan menodai gedung-gedung itu. Namun begitu, Palestina minta Israel hancurkan semua sinagoga di Gaza.Pengembalian Gaza ke pihak otorita Palestina akan dilangsungkan dalam beberapa jam mendatang. Israel sudah memerintahkan para pemukimnya dari Gaza dan meratakan rumah-rumah mereka dengan buldoser, begitu juga menghancurkan beberapa pangkalan militernya.Tetapi pertanyaan seputar nasib beberapa sinagoga atau rumah ibadat umat Yahudi adalah soal yang sulit bagi kabinet Israel. Para rabi terkemuka sudah menyerukan agar sinagoga-sinagoga itu dibiarkan tetap berdiri, dengan alasan penghancurannya oleh negara Yahudi akan membuat gedung-gedung itu ternodai.Tetapi kalangan yang mendukung penghancuran itu mengatakan, menyaksikan warga Palestina sendiri yang menghancurkan sinagoga-sinagoga itu akan lebih menyakitkan. Para pejabat Palestina mendesak pihak Israel untuk menghancurkan sinagoga dengan mengatakan mereka tidak akan mampu melindungi simbol-simbol pendudukan."Kami tetap menghargai Yudaisme. Kami tidak ingin terjebak dalam situasi bahwa kami harus menghancurkan sinagoga-sinagoga itu dan disaksikan dunia," kata ketua tim perunding Palestina, Saeb Erekat.750 orang anggota pasukan penjaga perbatasan Mesir sudah ditempatkan di sepanjang perbatasan Mesir dan Jalur Gaza, sesuai dengan perjanjian yang dicapai dengan Israel. Mereka akan bertanggung-jawab mencegah penyelundupan senjata dan penyebarangan ilegal ke Gaza.Tetapi Israel mengatakan akan tetap mengawasi pergerakan barang dan orang masuk dan keluar Gaza, mengutip kekhawatiran mengenai kemampuan otorita Palestina untuk mencegah penyelundupan senjata kepada para militan di Gaza.Para pejabat Palestina mengatakan mereka akan tetap menuntut kebebasan gerakan antara Gaza dan Mesir. Kalau tidak ada kebebasan ini, tambah mereka, itu artinya pendudukan Israel di Gaza tidak pernah benar-benar berakhir.
(mar/)











































