detikNews
Senin 21 Januari 2019, 17:20 WIB

Survei Median: 28% Anggap Jokowi Otoriter, 11% Nilai Prabowo Langgar HAM

Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Survei Median: 28% Anggap Jokowi Otoriter, 11% Nilai Prabowo Langgar HAM Direktur Eksekutif Median Rico Marbun (Nur Azizah Rizki Astuti/detikcom).
Jakarta -

Lembaga survei Median merilis hasil survei Pilpres 2019. Dari hasil survei diketahui sikap pemilih terhadap isu sensitif, di antaranya pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) yang dianggap otoriter serta anggapan bahwa Prabowo Subianto terkait pelanggaran HAM.

Survei dilakukan pada 6-15 Januari 2019 terhadap 1.500 responden, yang memiliki hak pilih. Survei dilakukan menggunakan metode multistage random sampling. Margin of error survei +/- 2,5 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Survei dilakukan dengan memberi pertanyaan kepada responden 'jika ada yang mengatakan bahwa pemerintah Joko Widodo cenderung otoriter dan antikritik, bagaimana menurut Anda?'. Hasilnya, 28 persen pemilih setuju bahwa pemerintahan Jokowi cenderung otoriter.

"Yang menyatakan bahwa Pak Jokowi itu cenderung otoriter dan antikritik itu kurang lebih ada 28 persen, yang tidak setuju memang lebih besar, 63,4 persen," kata Direktur Eksekutif Median Rico Marbun di Bumbu Desa, Cikini, Jakarta Pusat, Senin (21/1/2019).

Responden juga ditanya 'jika ada yang mengatakan bahwa Prabowo melakukan pelanggaran HAM pada 1998 lalu, bagaimana menurut Anda?'. Hasilnya, 11,4 persen pemilih setuju.

"Tapi kalau kita sandingkan dengan yang mengatakan Prabowo melakukan pelanggaran HAM, itu yang setuju dengan Pak Prabowo melakukan pelanggaran itu hanya 11,4 persen. Dan tidak semua segmen demografi mengerti apa yang terjadi pada 1998 lalu. Tetapi saat ini, lebih banyak segmen publik yang menganggap bahwa situasi yang terjadi sekarang ini mereka menganggap Pak Jokowi ini antikritik ketimbang Pak Prabowo melanggar HAM, 28 persen dibanding 11,4 persen," jelas Rico.






Median juga menanyakan kepada responden 'jika seandainya kasus hukum yang selama ini membelit Habib Rizieq disetop dan Habib Rizieq diampuni sehingga bisa pulang kembali ke Indonesia, menurut Anda apakah pengampunan tersebut benar-benar tulus atau hanya pencitraan saja menjelang pemilihan presiden?'.

Berdasarkan hasil survei, menurut Rico, Jokowi masih perlu membentuk opini positif meskipun ada pembebasan terhadap aktivis-aktivis Islam seperti Habib Rizieq Shihab karena masih ada pemilih yang menganggap langkah ini sebagai pencitraan semata.

"Memang kami fokusnya ke Habib Rizieq, waktu itu kan belum ada putusan presiden untuk Abu Bakar Ba'asyir ya, tetapi pertanyaan ini bisa kita analogikan untuk melihat bagaimana sih respon masyarakat dan apa yang harus dilakukan oleh 01 untuk menanggapi respon itu," jelasnya.



"Dari data, banyak yang menyatakan bahwa itu adalah pencitraan itu ada 23,91 persen. Yang mengatakan itu tulus 10,56 persen dan sisanya tidak tahu. Artinya kalau pasangan 01 ingin memperoleh momentum psotif atau punya efek elektoral yang positif, maka 01 itu harus bisa meyakinkan publik bahwa langkah-langkah yang ia ambil seperti misalnya membebaskan Abu Bakar Ba'asyir atau Habib Rizieq itu adalah langkah yang dilakukan secara tulus, bukan langkah yang dilakukan sekadar menjelang Pilpres 2019," papar Rico.

Terkait Aksi 212, mayoritas publik di Indonesia menganggap aksi itu tidak memperkeruh atau memecah belah bangsa. Mereka yang menganggp aksi 212 itu memecah belah bangsa ada 22,5 persen, sementara yang tidak setuju dengan pendapat itu ada 66,6 persen.

"Kami tanyakan juga 'jika Aksi 212 itu dilaksanakan di daerah Anda, bagaimana sikap Anda?'. Yang mendukung tapi belum ingin ikut itu 25,1 persen, sementara yang mendukung dan ingin ikut itu 16 persen sehingga totalnya yang mendukung aksi 212 itu totalnya 41,1 persen, yang tidak mendukung ada 20 persen," ucapnya.





Capres Prabowo Subianto pernah membuat pernyataan jika dirinya kalah, maka Indonesia akan bubar. Hasil survei Median menyatakan yang setuju dengan pernyataan tersebut hanya 11,4 persen, sementara yang tidak setuju lebih banyak, yaitu 81,9 persen.

Median juga menyoroti jumlah pemilih yang melihat aktivitas Jokowi di media massa lebih besar daripada Prabowo. Pemilih yang melihat Jokowi-Ma'ruf di media massa sejumlah 78,4 persen, sementara yang melihat Prabowo-Sandi sejumlah 55,7 persen.

"Ini juga mungkin menjelaskan salah satu faktor kenapa suara Pak Jokowi sampai saat ini masih unggul dibandingkan Pak Prabowo. Dr 100 persen pemilih, ada 78,4 persen pemilih yang menyatakan dia pernah melihat aktivitas Pak Jokowi di media massa, seperti TV, koran, radio, sementara Pak Prabowo itu 55,7 persen. Meskipun Pak Prabowo lebih unggul di medsos, tapi di media massa konvensional suara Pak Prabowo ini masih kalah," pungkasnya.



Saksikan juga video 'Jokowi-Ma'ruf Masih Unggul Versi Survei Median':

[Gambas:Video 20detik]

Survei Median: 28% Anggap Jokowi Otoriter, 11% Nilai Prabowo Langgar HAM





(azr/fdn)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com