DetikNews
Minggu 20 Januari 2019, 17:51 WIB

Cegah Bunuh Diri: Kenali Tandanya, Keluarkan Rasa Sakitnya

Adhi Indra Prasetya - detikNews
Cegah Bunuh Diri: Kenali Tandanya, Keluarkan Rasa Sakitnya Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Amatilah orang-orang di lingkungan Anda. Bila menemukan gejala-gejala bunuh diri, maka dengarkanlah keluhannya.

American Association of Suicidology menjelaskan ada tanda-tanda yang terlihat dari orang yang hendak bunuh diri. Tanda paling akut adalah mengancam menyakiti atau membunuh diri sendiri, berbicara tentang keinginan melakukan hal-hal demikian, dan mencari cara bunuh diri.

Tanda-tanda yang lebih umum ketimbang hal di atas berupa konsumsi minuman keras, tak punya alasan bertahan hidup, gelisah, tak bisa tidur atau terlalu banyak tidur, merasa terjebak dalam permasalahan, putus asa, menarik diri dari masyarakatnya, marah tak terkontrol, ceroboh, dan perubahan suasana hati yang drastis.


Koordinator Psikolog Yayasan Pulih, Danika Nurkalista, melihat tanda-tanda seperti itu sebagai gejala dari orang yang sedang butuh bantuan.

"Maka harus diajak bicara," kata Danika di Kantor Yayasan Pulih, Jl Teluk Peleng, Nomor 63A, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (17/1/2019).

Namun tak selalu pelaku bunuh diri menampakkan tanda-tanda spesifik. Yang terpenting, orang perlu memperhatikan koleganya satu sama lain.

"Kadang kelihatan seperti orang normal, ternyata dia sudah berencana melakukan bunuh diri. Maka dibutuhkan kepekaan di keluarga sendiri untuk melihat perubahan perilaku," kata Danika.




Orang terdekat perlu segera membuka dialog bila seseorang terpantau mengalami perubahan perilaku. Dia juga menyarankan agar tak perlu lagi ada keragu-raguan untuk membawa diri sendiri ke psikolog atau psikiater. Dia merasakan, persepsi salah tentang konsultasi psikologi telah berkurang di masyarakat, dan ini bagus.

"Seseorang semakin terbuka untuk datang ke psikolog maupun psikiater, dan tidak merasakan bahwa 'oh saya sakit jiwa ya kalau saya pergi ke layanan kesehatan'. Dulu, stigma itu menghambat orang untuk pergi ke psikolog atau psikiater," kata Danika.

Pendiri kelompok pengkaji pencegahan bunuh diri, Into The Light, Benny Prawira Siauw, menilai masyarakat perlu menyambut perubahan perilaku orang terdekat dengan pendekatan komunikasi yang baik. Gejala bunuh diri jangan dianggap sebagai cara seseorang mencari perhatian atau 'caper'.

"Tiba-tiba di status Facebook ngomong pengin mati. Tanda-tanda seperti itu seringkali kita menganggap sebagai caper, tapi kita tidak tahu apa yang mereka alami," kata Benny.

Untuk konteks anak muda, selain menuliskan kalimat tak biasa di sosial media, seseorang yang hendak bunuh diri biasanya menitipkan pesan semacam titip pacar, titip hewan pemeliharaan, atau meminta maaf tanpa alasan yang spesifik.
"Yang harus kita lakukan adalah mendampingi dia melampaui rasa sakitnya. Mereka sebenarnya merasa bersalah dengan berpikir untuk bunuh diri. Tapi rasa sakit itu harus kita pedulikan dulu lewat ngobrol," kata Benny.


"Rasa sakit itulah yang harus kita keluarkan, supaya pemikiran bunuh dirinya berhenti. Karena orang kan sebetulnya punya insting bertahan hidup," tandas Benny.

Simak juga berita-berita lain di detikcom dengan tema masalah bunuh diri.

Untuk mengakses layanan konseling pencegahan bunuh diri, Kementerian Kesehatan mempersilakan masyarakat untk mengakses nomor telepon gawat darurat (emergency) di 119, bebas pulsa.

Lima rumah sakit juga disiagakan Kementerian Kesehatan untuk melayani panggilan telepon konseling pencegahan bunuh diri, yakni:
1. RSJ Amino Gondohutomo Semarang (024) 6722565
2. RSJ Marzoeki Mahdi Bogor (0251) 8324024, 8324025, 83240467
3. RSJ Soeharto Heerdjan Jakarta (021) 5682841
4. RSJ Prof Dr Soerojo Magelang (0293) 363601
5. RSJ Radjiman Wediodiningrat Malang (0341) 423444

Ada pula nomor hotline Halo Kemkes di 1500-567 yang bisa dihubungi untuk mendapatkan informasi di bidang kesehatan , 24 jam.
(dnu/dhn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed