DetikNews
Sabtu 19 Januari 2019, 15:45 WIB

Ada Bahaya di Balik Kabar Bunuh Diri Idola

Danu Damarjati - detikNews
Ada Bahaya di Balik Kabar Bunuh Diri Idola Foto ilustrasi seseorang yang mengalami depresi. (Thinkstock)
Jakarta - Bunuh diri orang terkenal dinilai bisa 'menular' ke penggemarnya. Karena ini merupakan masalah serius, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) turun tangan untuk mengatasi sumber masalahnya.

Bunuh diri selebritas di dunia Barat dan Timur diikuti oleh kabar-kabar yang menyebar. Di sisi lain, sebagian dari anggota masyarakat mengalami kerentanan terhadap tindakan bunuh diri. Kondisi ini memungkinkan terjadinya peniruan bunuh diri atau 'copycat suicide'.

Copycat suicide disebut pula dengan istilah efek Werther. Istilah ini diambil dari tokoh novel fiksi karya Johann Wolfgang von Goethe berjudul 'The Sorrow of Young Werther' (1774). Dalam novel itu, Werther bunuh diri. Ternyata, tindakan tokoh tidak nyata itu ditiru oleh orang-orang. Goethe sendiri kaget dengan bahaya yang ditimbulkan oleh karyanya.


Peristiwa pasca-matinya Kurt Cobain pada 8 April 1994 dinilai menjadi salah satu bukti efek Werther di dunia nyata. Hal ini dijelaskan oleh David A Jobes dan kawan-kawan dalam 'The Kurt Cobain Suicide Crisis'. Cobain adalah personel paling menonjol dalam kelompok musik Nirvana. Penampilannya diikuti banyak anak muda. Dia menjadi idola. Namun di usia 27 tahun, Cobain bunuh diri. Ada luka shotgun di kepala mayat Cobain yang sudah berusia tiga hari saat ditemukan. Darahnya mengandung heroin dan valium.

Ada Bahaya di Balik Kabar Bunuh Diri IdolaKurt Cobain (Getty Images)

Kontan saja, berita bunuh diri Cobain menyebar ke seantero AS dan dunia. Duka mendalam tercurah dan meluas. Radio-radio terus memutar lagu Nirvana 24 jam. Televisi, khususnya MTV, menayangkan rekaman konser, wawancara, dan video musik. Penggemar-penggemar berkumpul di kediaman Cobain, meninggalkan ucapan dukacita dan bunga. Berita tentang kematiannya mendominasi halaman depan koran dan majalah, seperti Newsweek dan People. Majalah Rolling Stone mencurahkan liputannya untuk membahas Cobain.

Di Kota Seattle, dua hari setelah penemuan mayat Cobain, 7.000 orang begadang. Stasiun radio berkolaborasi dan menyeponsori kegiatan itu.

Tujuh pekan usai Cobain bunuh diri, pemuda 28 tahun penggemar Nirvana pulang dari acara begadang. Sesampainya di rumah, pemuda itu tewas karena meniru persis bunuh diri Cobain. Inilah copycat suicide.



Di belahan Timur, gitaris kelompok musik speed metal X Japan bernama Hide (Hideto Matsumoto) ditemukan tewas pada 2 Mei 1998. Otoritas setempat menyatakan Hide bunuh diri, meski rekan-rekannya menyatakan itu bukan bunuh diri. Namun kabar bunuh diri menyebar dengan cepat ke seantero Negeri Matahari Terbit.

Mendengar kabar itu, para penggemar histeris. Fenomena copycat suicide terjadi. Gadis 14 tahun di Tokyo meniru persis bunuh diri Hide. Ada pula gadis 19 tahun menggores pergelangan tangannya dengan pisau plastik setelah menaruh bunga di kuil.

The Japan Times melaporkan, saat itu media massa Jepang disalahkan karena menulis laporan terlalu detail tentang cara bunuh diri Hide, termasuk media ternama Asahi Shimbun. Dilansir The New York Times, setidaknya ada lima remaja putri yang mencoba bunuh diri berkaitan dengan peristiwa matinya Hide X Japan, tiga di antarnya tewas.

Ada Bahaya di Balik Kabar Bunuh Diri IdolaMakam gitaris X Japan, Hide (CygnusX523/Wikimedia Commons)

Dari dunia sepakbola, kematian Robert Enke sempat menyentak publik Jerman pada 10 November 2009. Enke adalah mantan kiper Barcelona (Spanyol), Fenerbahce (Turki), dan terakhir bermain di Hannover 96 (Jerman). Enke bunuh diri dengan cara menabrakkan diri ke kereta yang melaju. Dilansir Deutsche Welle (DW), terjadi lonjakan angka bunuh diri di Jerman setelah kematian Enke. Dalam empat pekan, ada 130 pria bunuh diri di Jerman saat itu.

Efek bunuh diri aktor terkenal Robin Williams juga menjadi pembahasan suicidologi, ilmu kajian pencegahan bunuh diri. David S Fink dan kawan-kawan di jurnal PLOS ONE menjelaskan efek bunuh diri 11 Agustus 2014 yang dilakukan aktor itu.



Empat bulan usai Williams mati, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat menyatakan ada 18.690 kematian akibat bunuh diri di AS. Orang-orang yang tewas karena bunuh diri berusia 30-44 tahun, mati dalam keadaan tercekik seperti Williams. Penyebaran berita bunuh diri pemain film 'Dead Poets Society' itu diduga berkontribusi terhadap naiknya angka bunuh diri sebesar 10%.

Bunuh diri personel boyband Korea Selatan SHINee, Jonghyun, pada 18 Desember 2017 juga dinilai menimbulkan efek yang sama bagi penggemarnya. Seorang fans dari Indonesia dilaporkan ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri karena overdosis, kabarnya itu adalah upaya bunuh diri. Fans Jonghyun itu dikabarkan selamat dari maut. Dalam akun Twitternya, dia sempat menyatakan kehilangan kedua orang tuanya dan kini kehilangan idolanya. Kejadian ini sampai diberitakan The Korea Herald dan media-media luar Indonesia.

Ada Bahaya di Balik Kabar Bunuh Diri IdolaPotret Robert Enke, mantan kiper Barcelona, Fenerbahce, dan Hannnover 96. (AFP)

Steve Laudrantaye menulis untuk The Globe and Mail, dikemukakan bahwa pemberitaan bunuh diri selalu menarik pembaca di Amerika Utara. Namun perilaku pemberitaan berubah tahun '70-an, setelah ada penelitian yang menyebut jumlah bunuh diri di Detroit menurun ketika koran lokal berhenti memberitakan, dan timbul lagi saat pemberitaan bunuh diri berlanjut. Studi peneliti Austria menunjukkan pemberitaan sensasional dari bunuh diri di kereta bawah tanah telah mengakibatkan lebih banyak bunuh diri di kawasan kereta bawah tanah pula.

WHO turun tangan

Ternyata, pemberitaan media massa berpengaruh terhadap risiko bunuh diri orang-orang. Melihat bahaya ini, WHO menerbitkan pedoman untuk awak media massa. Pedoman itu memberi aturan peliputan bunuh diri supaya berita yang dihasilkan tidak membahayakan masyarakat.

"Lebih dari 100 investigasi tentang bunuh diri imitatif (copycat) telah dilakukan, dalam hal ini bunuh diri yang nampak secara langsung berkaitan dengan berita media massa tentang satu atau beberapa orang yang bunuh diri. Ulasan sistematis tentang studi-studi tersebut secara konsisten telah menghasilkan satu kesimpulan: pemberitaan media tentang kasus bunuh diri dapat menyebabkan perilaku bunuh diri berikutnya," demikian tulis WHO.

Hal itu tercantum dalam 'Preventing suicide: A resource for media professionals update 2017', disusun oleh WHO dan Asosiasi Internasional untuk Pencegahan Bunuh Diri (IASP), diakses detikcom, Rabu (16/1/2019).

Ada Bahaya di Balik Kabar Bunuh Diri IdolaRobin Williams (Kevork Djansezian/detikcom)

Dalam panduan peliputan bunuh diri, media perlu menyertakan alamat atau nomor telepon bantuan pencegahan bunuh diri yang bisa diakses masyarakat. Misalnya, nomor layanan konseling.

Berita soal bunuh diri juga perlu mengedukasi publik tentang fakta bunuh diri dan cara mencegahnya, bukan menyebarkan mitos. WHO menyarankan adanya peliputan kisah tentang cara mengatasi tekanan hidup dan pikiran bunuh diri.



WHO juga menyarankan agar ada peringatan dari media kepada peliput bunuh diri selebritas. Soalnya, berita bunuh diri selebritas rentan memicu copycat suicide. Peliputan tidak boleh mengagungkan selebritas pelaku bunuh diri. Bila penyebab bunuh diri si selebritas belum jelas terungkap, maka media diharapkan menahan diri untuk berspekulasi.

Saat mewawancarai sanak famili pelaku bunuh diri, kewaspadaan juga perlu diterapkan. Soalnya, kolega pelaku bunuh diri bisa sangat rentan melakukan tindakan yang membahayakan dirinya sendiri dalam keadaan berduka. Bahkan peliput juga bisa menjadi pihak yang rentan terhadap risiko bunuh diri.

WHO menyarankan agar berita bunuh diri tidak ditampilkan di tempat paling terkemuka (headline), baik dalam konteks berita tulisan, cetak, televisi, atau radio. Pengulangan berita bunuh diri yang terlalu sering juga tidak disarankan. Jangan gunakan kata sensasional, dan jangan pula menganggap bunuh diri sebagai sesuatu yang normal. WHO juga menyarankan agar jangan ada deskripsi metode bunuh diri.

"Penggunaan metode yang tak lazim dalam suatu kasus bunuh diri barangkali memang bisa membuat berita menjadi lebih bernilai, namun berita tentang metode bunuh diri semacam itu bisa membuat orang terpicu meniru. Metode baru (dalam bunuh diri) bisa secara cepat menyebar lewat peliputan media yang sensasional-dan efeknya bisa semakin meningkat via media sosial," demikian tulis WHO.



Mereka juga menyarankan agar lokasi bunuh diri tidak disebut detail. Media juga diimbau tidak menggunakan foto, potongan video, atau sumber dari media sosial, kecuali atas seizin pihak keluarga pelaku bunuh diri. Surat wasiat pelaku bunuh diri, menurut WHO, juga tidak perlu diterbitkan.

Ada Bahaya di Balik Kabar Bunuh Diri IdolaJonghyun SHINee (Dok. Koreaboo)

CDC lewat situs Columbia University Irving Medical Center juga menyampaikan rekomendasi untuk pemberitaan bunuh diri. Pertama, dilarang menampilkan penjelasan sederhana untuk bunuh diri karena bunuh diri tak pernah dilatarbelakangi satu faktor belaka. Kedua, dilarang menampilkan deskripsi tentang cara bunuh diri secara detail, dikhawatirkan metode bunuh diri bisa ditiru orang lain. Ketiga, dilarang memuji bunuh diri atau orang yang melakukannya, tak perlu ada sanjungan dari masyarakat terhadap pelaku bunuh diri.

"Empati ke keluarga dan kolega seringkali menggiring laporan ke arah aspek positif dari hidup pelaku bunuh diri. Misalnya, teman-teman atau guru yang dikutip bakal berkata si mendiang adalah 'anak yang hebat' atau 'punya masa depan yang cerah'. Kolega-kolega itu tak mau menyebut masalah mendiang. Akibatnya, si mendiang dilaporkan sebagai sosok yang dimuliakan. Bila pujian-pujian itu tak diimbangi dengan berita soal masalah pelaku bunuh diri, perilaku bunuh diri bisa menjadi hal yang menarik orang-orang rentan," demikian tulis CDC yang merupakan lembaga kesehatan milik pemerintah AS itu.

Simak juga berita-berita lainnya di detikcom dengan tema bunuh diri.


Untuk mengakses layanan konseling pencegahan bunuh diri, Kementerian Kesehatan mempersilakan masyarakat untuk mengakses nomor telepon gawat darurat (emergency) miliknya, yakni 119, bebas pulsa.

Lima rumah sakit juga disiagakan Kementerian Kesehatan untuk melayani panggilan telepon konseling pencegahan bunuh diri, yakni:
1. RSJ Amino Gondohutomo Semarang (024) 6722565
2. RSJ Marzoeki Mahdi Bogor (0251) 8324024, 8324025, 8320467
3. RSJ Soeharto Heerdjan Jakarta (021) 5682841
4. RSJ Prof Dr Soerojo Magelang (0293) 363601
5. RSJ Radjiman Wediodiningrat Malang (0341) 423444

Ada pula nomor hotline Halo Kemkes di 1500-567 yang bisa dihubungi untuk mendapatkan informasi di bidang kesehatan, 24 jam.




(dnu/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed