DetikNews
Sabtu 19 Januari 2019, 14:18 WIB

Sudah Lama Mati, Hotline Cegah Bunuh Diri Akan Dihidupkan Lagi

Danu Damarjati - detikNews
Sudah Lama Mati, Hotline Cegah Bunuh Diri Akan Dihidupkan Lagi Foto ilustrasi butuh bantuan untuk mengatasi masalah kecenderungan bunuh diri. (Ilustrasi/Thinkstock)
Jakarta - Masalah bunuh diri perlu ditangani. Pemerintah pernah membuka layanan telepon (hotline) pencegahan bunuh diri di 500-454, namun hotline itu sudah mati sejak beberapa tahun lalu. Kapan dihidupkan lagi?

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan tingkat bunuh diri di Indonesia sebanyak 3,7 per 100 ribu orang pada 2016. Namun pegiat pencegahan bunuh diri menengarai kasus yang tidak tercatat di Indonesia lebih banyak ketimbang yang nampak lewat kacamata statistik.

Otoritas dalam negeri sendiri mengemukakan kasus bunuh diri mencapai ratusan tiap tahunnya. Ini terlihat dari data yang dipaparkan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Indikator Pembangunan Berkelanjutan 2016.



Berdasarkan data kepolisian dari 2010 hingga 2015, BPS mencatat kasus bunuh diri tahun 2010 sebanyak 634 kasus, tahun 2011 sebanyak 970 kasus, tahun 2012 sebanyak 979 kasus, tahun 2013 sebanyak 921 kasus, tahun 2014 sebanyak 842 kasus, dan tahun 2015 sebanyak 812 kasus.

Meski riset WHO tak menempatkan Indonesia di jajaran teratas negara-negara dengan tingkat bunuh diri tertinggi, namun ratusan kasus bunuh diri tiap tahun tentu tak bisa dianggap remeh. Bahkan Kementerian Kesehatan sendiri menyatakan masalah itu sangat memprihatinkan. Lalu kenapa layanan konseling pencegahan bunuh diri itu ditutup?

Sebab hotline ditutup

Hotline (021) 500-454 ini pertama kali diluncurkan Kementerian Kesehatan sebagai layanan konseling pencegahan bunuh diri pada 10 Oktober 2010, bertepatan dengan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia. Angka 454 dimaksudkan agar bisa dibaca sebagai ASA yang bermakna harapan, sebutan untuk hotline ini.

"Ditutup karena dari 2013 hingga 2014 terjadi kecenderungan penurunan jumlah penelepon," kata Kepala Bagian Opini Publik Peliputan dan Produksi Komnikasi Kemenkes, Busroni, kepada detikcom, Jumat (18/1/2018).

Pada akhir 2010 ada 161 penelepon hotline itu, akhir 2011 ada 222 penelepon, akhir 2013 ada 267 penelepon. Terakhir, Januari hingga September 2014 tercatat hanya 39 penelepon. Selain penurunan jumlah penelepon, tenaga psikolog dan psikiater yang melayani konseling itu juga sedikit.

"Psikolog dan psikiaternya sulit untuk melayani secara paripurna, akhirnya antara penelepon dan pemberi layanan konsultasi tidak ketemu (proporsi jumlah idealnya)," kata Busroni. Promosi tentang layanan konseling itu dinilainya juga kurang gencar, sehingga banyak orang belum tahu bahwa layanan konsultasi pencegahan bunuh diri ada.

Kepala Sub Direktorat Masalah Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja, Lina R Mangaweang, menjelaskan bahwa penelepon 500-454 saat itu juga tak semuanya ingin berkonsultasi untuk mengatasi masalah bunuh diri yang sedang dialami. "Salah satu penyebab ditutup karena kurang efektif, kebanyakan penelpon bertanya tentang informasi rumah sakit jiwa, dan lain sebagainya, ketimbang konseling percobaan bunuh diri," kata Lina.



Menurut berita detikcom 2011 silam, konseling yang menyangkut hidup matinya manusia itu diawaki 10 orang relawan yang terbagi menjadi 3 shift. 10 Orang yang bekerja dari RS Jiwa Dr Soeharto Heerdjan Jakarta itu harus menangani orang dari seluruh Indonesia yang hendak bunuh diri. Padahal mereka hanya mampu melayani 60 penelepon per hari, dan saat itu peneleponnya bisa mencapai 90 orang.

Akhirnya, layanan konseling pencegahan bunuh diri via nomor telepon (021) 500-454 ditutup pada akhir 2014. Praktis umur hotline itu cuma bertahan empat tahun.

Akan Dihidupkan Lagi

Setelah lima tahun mati, hotline konsultasi pencegahan bunuh diri akan dihidupkan lagi. Soalnya, pencegahan bunuh diri adalah hal yang penting.

"Kita akan kaji. Yang menyangkut pelayanan masyarakat, itu pasti diperlukan," kata Sekretaris Jenderal Kemenkes, Oscar Primadi.

Sudah Lama Mati, Hotline Cegah Bunuh Diri Akan Dihidupkan LagiFoto: Sekjen Kementerian Keesehata, Oscar Primadi (Dok Kemenkes)

Dia menyatakan penghidupan kembali hotline ASA itu tengah dijajaki. Persoalan anggaran operasional dan manajemen hotline segera dikaji. Hal ini juga diungkapkan oleh Busroni. Tiap warga negara punya hak untuk mendapatkan layanan kesehatan sebagaimana diatur dalam Pasal 28 H ayat 1 Undang-Undang Dasar Negara RI 1945.



Soal tenaga layanan konseling, Kemenkes sedang memikirkan untuk mempekerjakan sarjana yang berkompeten.

"Kami akan rapatkan sebagai terobosan 2019 bulan ini juga. Untuk mengisi kekosongan psikolog dan psikiater, maka sarjana akan kami ajak gabung," kata Busroni.

Nomor 500-454 merupakan nomor yang sengaja didaftarkan Kemenkes ke Telkom sebagai layanan konsultasi itu, pada beberapa tahun lalu. Nomor itu dipecah menjadi 30 ekstensi. Meski nomor itu sudah dimatikan, namun nomor itu masih terdaftar di Telkom.

"Suatu saat akan bisa dihidupkan kembali," kata Busroni.

Sekarang telepon ke mana?

Tentu bagi orang yang sedang menghadapi masalah, layanan konseling dibutuhkan segera dan tidak bisa menunggu sampai 500-454 hidup kembali.

Untuk mengakses layanan konseling pencegahan bunuh diri, Kementerian Kesehatan mempersilakan masyarakat untuk mengakses nomor telepon gawat darurat (emergency) miliknya, yakni 119, bebas pulsa.

"Kita punya 119. Itu pelayanan umum, termasuk pelayanan pencegahan bunuh diri," kata Sekjen Kemenkes, Oscar.



Hanya saja, saat detikcom mengakses 119, petugas call center menyatakan 119 berisi layanan permintaan bantuan darurat, permintaan untuk mengirimkan ambulans, dan pertolongan pertama pada kecelakaan. Kemudian detikcom diarahkan ke layanan contact center Polri dengan nomor 110 (bebas pulsa) untuk mendapatkan layanan pencegahan bunuh diri.

Maka detikcom mencoba menelepon contact center Polri 110. Tiga kali percobaan pertama tidak berhasil menyambungkan panggilan dengan petugas contact center. Barulah di panggilan ke-4, telepon detikcom dijawab oleh petugas. Seketika setelah saya memperkenalkan diri, petugas call center pria merespons dengan ucapan terima kasih, dan kontak terputus. Sayang sekali.

Tidak menyerah, detikcom menelepon contact center Polri 110 untuk yang ke-5 kalinya. Telepon diangkat oleh petugas call center perempuan. Saya memperkenalkan diri, petugas call center merespons dengan ucapan terima kasih, dan kontak terputus kembali.

"Berbagai rumah sakit jiwa di Jawa juga membuka hotline service. Masyarakat bisa memanfaatkan itu," kata Oscar.

Lima rumah sakit juga disiagakan Kementerian Kesehatan untuk melayani panggilan telepon konseling pencegahan bunuh diri, yakni:
1. RSJ Amino Gondohutomo Semarang (024) 6722565
2. RSJ Marzoeki Mahdi Bogor (0251) 8324024, 8324025, 8320467
3. RSJ Soeharto Heerdjan Jakarta (021) 5682841
4. RSJ Prof Dr Soerojo Magelang (0293) 363601
5. RSJ Radjiman Wediodiningrat Malang (0341) 423444

Ada pula nomor hotline Halo Kemkes di 1500-567 yang bisa dihubungi untuk mendapatkan informasi di bidang kesehatan, 24 jam.

Simak juga berita lain di detikcom tentang bunuh diri.
(dnu/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed