DetikNews
Jumat 18 Januari 2019, 20:44 WIB

Sekolah yang Dibakar KKB di Mimika Mulai Dibangun

Saiman - detikNews
Sekolah yang Dibakar KKB di Mimika Mulai Dibangun Rumah sakit dan sekolah dasar yang dibakar KKB di Mimika (Ardan Adhi Chandra/detikcom)
Mimika - Gedung SD dan SMP negeri di Kabupaten Mimika yang dibakar kelompok kriminal bersenjata (KKB) sudah mulai dibangun. Sekolah tersebut dibakar pada Maret 2018.

Pantauan detikcom, tiang-tiang bangunan sudah didirikan, atap dan dinding pun sudah terpasang. Bagian tiang dan dinding gedung ini direnovasi menggunakan kayu besi.

Renovasi dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kapolres Mimika AKBP Agung Marlianto bersama perwakilan dari dinas pendidikan meninjau proses renovasi sekolah yang terletak di Jalan Poros Banti, Distrik Tembagapura, Mimika, ini.


Agung mengatakan awalnya renovasi ditargetkan selesai pada Desember 2018. Namun pengerjaan terkendala faktor geografis dan situasi keamanan. Progres renovasi untuk SD sudah 70 persen, sementara SMP sekitar 40 persen.

"Saya mohon maaf karena tidak sesuai yang ditargetkan, dikarenakan faktor geografis dan situasi keamananlah yang menghambat proses pembangunan gedung sekolah ini," ungkap Agung di lokasi, Jumat (18/1/2019).

Dia mengatakan pendekatan dengan tokoh masyarakat terus dilakukan agar ikut mendukung pembangunan sekolah. Ditargetkan Maret nanti bangunan sekolah sudah bisa dipergunakan. Meski menggunakan kayu besi sebagai bahan bangunan, Agung memastikan bangunan sekolah tetap aman.


Anggota Polri terus mengawal ketat para pekerja untuk memastikan keamanan para pekerja. "Pekerja dikawal polisi biar aman dan nyaman mereka bekerja. Kalau tidak dikawal, mana mereka mau kerja di Banti," kata Agung.

Sementara itu, perwakilan Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika, Wilhelmus Maggi, mengatakan gedung SD yang dibangun terdiri atas dua ruang kelas dan satu ruang guru. Sedangkan gedung SMP akan punya tiga ruang kelas dan satu ruang guru. Sejak SD dan SMP dibakar KKB, siswa mengikuti kegiatan belajar-mengajar di Yayasan Permata Papua di Kota Timika.

Di lokasi yang sama, tokoh perempuan Kampung Banti, Martina Natkime, berterima kasih dan mengatakan sangat senang dengan pelaksanaan pembangunan sekolah Banti. Dia berharap para guru mau kembali mengajar setelah pembangunan selesai dilakukan.


"Yang bakar sekolah dan rumah sakit itu bukan masyarakat Banti, tidak mungkin kami keluar dari Banti. Kami tidak bisa hidup di daerah pantai. Kami senang, kami terima kasih sudah ada ABRI (TNI), ada polisi di sini. Guru-guru kami kembali sudah mengajar di Banti," kata Martina.

Sementara itu, bangunan rumah sakit yang juga dibakar KKB hingga saat ini masih tampak berantakan. Renovasi atau pembangunan gedung belum terlihat.
(jbr/jbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed