detikNews
Jumat 18 Januari 2019, 07:08 WIB

4 Kali Ma'ruf Amin Bicara di Debat: Soal Disabilitas hingga Terorisme

Dwi Andayani - detikNews
4 Kali Maruf Amin Bicara di Debat: Soal Disabilitas hingga Terorisme Cawapres Ma'ruf Amin (kiri) dalam debat Pilpres 2019. (Foto: Rengga Sancaya)
Jakarta - Calon wakil presiden nomor urut 01, KH Ma'ruf Amin tampak tampil inferior dibandingkan capresnya, Joko Widodo (Jokowi) dalam debat perdana Pilpres 2019. Ma'ruf mendapat kesempatan empat kali berbicara dalam debat.

Berdasarkan catatan detikcom, yang pertama Ma'ruf berbicara terkait topik hak asasi manusia untuk kaum disabilitas. Saat itu, Ma'ruf melengkapi pernyataan Jokowi terkait disabilitas.


"Saya kira penting membangun budaya masyarakat memberikan penghormatan kepada kelompok disabilitas. Disabilitas dan non-disabilitas harus disamakan perlakuannya," ucap Ma'ruf di lokasi debat, Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan, Kamis (17/1/2019).

Yang kedua mengenai persoalan hukum. Ma'ruf menjawab pertanyaan cawapres nomor urut 02, Sandiaga Salahuddin Uno soal upaya menghindari tumpang tindih hukum. Ma'ruf mengatakan reformasi di bidang hukum harus dilanjutkan.


"Kami ke depan adalah lanjutkan reformasi di bidang hukum secara tetap, penataan regulasi, hilangkan yang tumpang tindih dan buat regulasi yang berkualitas yang memudahkan rakyat dan menjadikan pilihan investasi dan pengembangan UMKM," jelas Ma'ruf.

Porsi Ma'ruf diberikan lebih dominan terkait isu-isu terorisme dan kontra-terorisme. Sebelumnya, Ma'ruf memang disebut akan berbicara banyak mengenai isu ini. Ma'ruf menegaskan bahwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah mengeluarkan fatwa yang menyatakan terorisme bukan aksi jihad.

"Terorisme adalah kejahatan. Oleh karena itu, terorisme diberantas sampai akar-akarnya. Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa bahwa terorisme bukan jihad. Haram dilakukan. Dalam Alquran menyatakan orang yang melakukan perusakan di bumi harus dihukum keras," kata Ma'ruf.


"Oleh karena itu, upaya menanggulangi terorisme dengan cara sinergi pencegahan dan penindakan. Kami utamakan pencegahan, untuk menghilangkan atau menekan paham-paham radikal dan intoleran dengan deradikalisasi untuk mereka yang terpapar. Tindakan kami dengan pendekatan yang manusiawi tanpa harus melanggar HAM," imbuh Ma'ruf.

Sedangkan soal upaya kontra-terorisme, Ma'ruf mendorong adanya deradikalisasi. Kajian penyebab orang terpapar paham radikal harus dilakukan untuk menyusun penanganan. Jika terpapar karena faktor ekonomi, solusinya adalah menciptakan lapangan kerja.

"Caranya apa yang mengakibatkan dia jadi radikal. Kalau karena paham keagamaan yang menyimpang, maka deradikaliasasinya, luruskan paham yang menyimpang itu. Tapi kalau faktor ekonomi atau sosial, pendekatannya adalah melalui pemberian lapangan kerja, santunan," ujarnya.


Jusuf Kalla (JK) yang pernah berbarengan dengan Jokowi ikut debat Pilpres 2014 mengomentari penampilan Ma'ruf. Soal performa Ma'ruf, JK memandang sudah hakikat seorang wakil untuk lebih memberi porsi kepada penampil utama, dalam hal ini Jokowi.

"Kan (Ma'ruf) berbicara juga tadi. Walaupun, ya memang wakil selalu begitu. Harus nomor satu harus lebih banyak daripada nomor dua," sebut JK di kediamannya, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (17/1).



Simak juga video 'Ma'ruf Singgung Fatwa MUI soal Terorisme, Prabowo Bicara Stigma':

[Gambas:Video 20detik]


(dkp/idn)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com