Bom yang Dipakai di Indonesia Berasal dari Filipina Selatan

Bom yang Dipakai di Indonesia Berasal dari Filipina Selatan

- detikNews
Sabtu, 10 Sep 2005 11:02 WIB
Jakarta - Ada informasi penting dari negara tetangga Filipina. Material bom yang digunakan dalam banyak serangan militan di Indonesia kemungkinan berasal dari wilayah bergolak Filipina selatan.Demikian diungkapkan seorang pejabat senior intelijen kepolisian Filipina seperti diberitakan kantor berita Reuters, Sabtu (10/9/2005).Menurut pejabat itu, pengiriman bahan peledak high explosives tampaknya telah dilakukan awal tahun ini ke Indonesia dari Pulau Mindanao. Wilayah Filipina selatan itu telah diwarnai pemberontakan separatis muslim selama sekitar 40 tahun."Para militan berhasil membeli material-material bom untuk dipakai dalam target-target di Indonesia," ujar pejabat intelijen yang menolak disebutkan jati dirinya. Informasi itu tertera dalam laporan keamanan rahasia yang disiapkan April lalu.Laporan tersebut merangkum kiriman email antara tersangka pemimpin militan Indonesia, Dulmatin, yang bersembunyi di Mindanao sejak April 2003 lalu dengan militan-militan lainnya. Menurut pejabat senior itu, perihal email tersebut diketahui oleh intelijen Indonesia dan Filipina.Dulmatin disebut-sebut sebagai tersangka kunci dalam pengeboman Bali yang menewaskan 202 orang pada Oktober 2002 silam. Dia diyakini bekerja sama erat dengan para pemberontak Abu Sayyaf yang terkait jaringan al Qaeda.Menurut pejabat-pejabat intelijen Filipina, lokasi tambang yang hampir mati dan perusahaan konstruksi di Filipina selatan bisa jadi merupakan sumber bahan peledak yang dibeli militan-militan Indonesia.Contoh kasus pada Januari 2002 lalu, pasukan keamanan Filipina menyita sekitar satu ton bahan peledak yang tersembunyi di sebuah gudang di kota General Santos, Filipina selatan. Otoritas Filipina mengatakan, material bom yang akan dikirimkan ke Singapura via Indonesia itu, dibeli oleh Fathur Rohman al-Ghozi. Warga Indonesia yang dituduh sebagai anggota jaringan Jemaah Islamiah,yang merencanakan dan mendanai serangan bom di ibukota Manila pada 30 Desember 2000 lalu yang menewaskan 22 orang. (ita/)


Berita Terkait