WN Inggris Penampar Staf Imigrasi Pakai Penerjemah, Siapa yang Bayar?

Aditya Mardiastuti - detikNews
Kamis, 17 Jan 2019 13:22 WIB
Sidang WN Inggris penampar staf Imigrasi. (Aditya Mardiastuti/detikcom)
Denpasar - Selama menjalani sidang kasus penamparan staf Imigrasi Bali, Auj-e Taqaddas mengklaim tak mendapatkan fasilitas dari negara. Padahal, selama sidang, warga negara (WN) Inggris itu selalu didampingi penerjemah. Siapa yang bayar?

"Itu dari jaksa, translator, memang kewajiban jaksa untuk menyiapkan diatur di undang-undang juga," kata Kasi Intel Kejari Badung Waher Tarihoran kepada detikcom, Kamis (17/1/2019).

Selama sidang, Taqaddas juga mengeluhkan telah menanggung biaya hidup selama tinggal di Indonesia karena kasus ini. Padahal, menurut Taqaddas, kasus ini dipicu karena tugas staf imigrasi yang dia anggap tidak becus bekerja.

Menurut Waher, pihaknya tidak bertanggung jawab dengan biaya hidup Taqaddas selama proses hukum berjalan. Sebab, ketentuan Pasal 212 KUHP juga tidak mengharuskan Taqaddas ditahan.

"Jadi pada dasarnya dia tidak ditahan oleh kami jaksa, jadi kalau untuk perihal bagaimana di luar persidangan kami tidak, intinya kami tidak menahan. Sepanjang agenda sidang ini kami menginformasikan gitu aja. Kebetulan terdakwa kooperatif tiap tanggal sidang datang, beliaunya kooperatif," terangnya.

Dalam sidang kemarin, Rabu (16/1), Taqaddas juga mengeluhkan soal terpaksa membela diri sendiri karena tak difasilitasi pengacara. Waher menyebut negara tidak wajib menyiapkan karena ancaman hukuman Taqaddas di bawah lima tahun.

"Karena dia di bawah 5 tahun, kita tidak wajib menyiapkan. Kalau di atas itu, nanti kita sediakan kalau terdakwa tidak mampu. Tapi masak iya nyiapain pengacara nggak bisa, beli tiket Rp 180 juta bisa, kan nggak logis jadinya," cetusnya.

Selama sidang berjalan, pihaknya juga menyediakan transportasi untuk Taqaddas. Perihal transportasi ini juga tak diwajibkan oleh undang-undang, tapi atas dasar sukarela jaksa untuk mempermudah terdakwa asal Inggris tersebut.

"Transportasi kemurahan hati kami aja. Jadi supaya mengurangi tendensi dia ke kami, ya, sudahlah. Jadi kami juga ambil hati dia supaya nggak terlalu teriak-teriak cuma beliaunya seringkali salah persepsi ke kami," tutur Waher.

Dia menambahkan, sikap emosional Taqaddas juga sudah terlihat ketika pemeriksaan di kejaksaan. Pihaknya pun kewalahan dan berusaha menenangkan, tapi gagal.

"Jadi, semenjak perkara itu tahap kedua, dia di ruangan kami di kantor kejaksaan dia marah-marah kami diem aja. Kami juga ngerti lagi terbeban, kami mencoba mencairkan kami juga nggak, mungkin memang keras hati, ya sudahlah. Kami juga sudah mencoba mengambil hatinya, tapi nggak mempan," ujar Waher. (ams/fdn)