detikNews
Kamis 17 Januari 2019, 08:11 WIB

Potret Miris Sekolah di Ujung Barat Indonesia

Datuk Haris Molana - detikNews
Potret Miris Sekolah di Ujung Barat Indonesia Foto: Datuk Haris Molana/detikcom
Aceh Utara - Suara perempuan dewasa dan anak-anak terdengar bersautan dari balik bangunan berdinding tepas bambu dan beratapkan daun rumbia itu. Terlihat, banyak lubang menganga seantero dinding dan atapnya. Sekilas, bangunan itu mirip tempat nginapnya hewan ternak warga.

Namun bagi anak-anak di Aceh Utara, bagunan itu memiliki nilai yang sangat besar. Di tempat sederhana itulah saban hari mereka menuntut ilmu pendidikan duniawi.

Bangunan tersebut adalah SMP Ta'alimil Mubtadi yang terletak di Desa Pucok Alue, Kecamatan Baktiya, Aceh Utara, Aceh. Sekolah itu berada satu kompleks dengan Dayah (pesantren) Ta'alimil Mubtadi. Murid sekolah tersebut juga sebagian dari para santri yang mondok.

 Bangunan ini adalah SMP Ta'alimil Mubtadi yang terletak di Desa Pucok Alue, Kecamatan Baktiya, Aceh Utara, Aceh. Bangunan ini adalah SMP Ta'alimil Mubtadi yang terletak di Desa Pucok Alue, Kecamatan Baktiya, Aceh Utara, Aceh. Foto: Datuk Haris Molana/detikcom


Saat detikcom menyambangi sekolah tersebut, tampak anak-anak berseragam putih biru layaknya murid SMP lain ke luar dari kamar tempat mereka mondok di pesantren itu. Dengan menenteng buku, tepat pukul 14.00 WIB mereka masuk ke ruangan kelas. Dari kejauhan, bangunan itu tampak berdiri tunggal. Namun, di dalamnya bangunan itu disekat menjadi tiga ruangan.

menenteng buku, anak-anak berseragam warna putih dan biru tepat pukul 14.00 WIB masuk ke ruangan kelas. menenteng buku, anak-anak berseragam warna putih dan biru tepat pukul 14.00 WIB masuk ke ruangan kelas. Foto: Datuk Haris Molana/detikcom


Setiap ruangan ada sejumlah bangku dan meja diletakkan di atas tanah yang menjadi lantainya. Sementara dinding depannya tergantung satu papan tulis berwarna putih. Dengan cekatan dan kesabaran, para guru mengajarkan pengetahuannya kepada para murid-murid.

Sekolah ini berdiri pada tahun 2015. Awalnya berada di desa tetangga namun karena berbagai hal dan terkendala masalah lahan maka dipindahkan ke tempat sekarang.


Ada 3 ruangan. Setiap ruangan ada sejumlah bangku dan meja diletakkan di atas tanah yang menjadi lantainya.Ada 3 ruangan. Setiap ruangan ada sejumlah bangku dan meja diletakkan di atas tanah yang menjadi lantainya. Foto: Datuk Haris Molana/detikcom

"Pendirian sekolah ini atas motivasi santri mondok di pesantren ini yang mengingikan adanya sekolah sembari belajar mengaji. Mereka meminta pimpinan pesantren untuk menyediakan sekolah agar bisa belajar ilmu pengetahuan sambil mengaji," kata Kepala Sekolah SMP Ta'alimin Mubtadi, Mutazabuddin, kepada detikcom, Kamis (17/1/2019).

 "Selama ini pembangunannya swadaya masyarakat. Untuk fisik, pemerintah belum memberikan bantuan namun untuk operasionalnya ada. Para murid pun jika mengikuti ujian nasional harus ke sekolah lain yang memiliki komputer dan fasilitias memadai," sebut Kepala Sekolah SMP Ta'alimin Mubtadi, Mutazabuddin. Foto: Datuk Haris Molana/detikcom

Setelah dipindahkan ke lokasi sekarang. Ruangan belajar yang dipakai hanya sederhana. Kemudian, karena santriwati di tempat itu tidak ada tempat tidur. Ruangan belajar pun dialihkan ke tempat darurat saat ini. Dilihat secara kasat mata, sangat tidak indah jika kondisi ruangannya demikian. Namun, itulah yang ada dan itupun hasil swadaya masyarakat sekitar. Jika tidak, maka anak-anak terpaksa harus pergi belajar ke tempat lainnya. Tentu, jaraknya tidak dekat.

"Selama ini pembangunannya swadaya masyarakat. Untuk fisik, pemerintah belum memberikan bantuan namun untuk operasionalnya ada. Para murid pun jika mengikuti ujian nasional harus ke sekolah lain yang memiliki komputer dan fasilitias memadai," sebut Mutazabuddin.

Sekolah tersebut sudah memiliki alumni angkatan pertama.Sekolah tersebut sudah memiliki alumni angkatan pertama. Foto: Datuk Haris Molana/detikcom

Dia menyebutkan hingga sekarang, sekolah tersebut sudah memiliki alumni angkatan pertama. Mutazabuddin akan terus berusaha untuk memajukan sekolah tersebut seperti sekolah lain baik negeri maupun swasta.

"Kami akan terus berusaha menjadikan sekolah ini yang terbaik ke depannya. Selama ini, kita hanya mengandalkan dana BOS yang dikucurkan oleh pemerintah. Termasuk membayar belasan guru honorer dan pengadaan buku pelajarannya. Kami berharap ada donatur yang mau membantu gedung sekolahnya. Sebab, bangunan sekarang serba kekurangan," imbuh Mutazabuddin.
(aan/aan)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed