BPS: Acara Keagamaan di Bali Ikut Sumbang Angka Kemiskinan

BPS: Acara Keagamaan di Bali Ikut Sumbang Angka Kemiskinan

Aditya Mardiastuti - detikNews
Rabu, 16 Jan 2019 15:03 WIB
BPS: Acara Keagamaan di Bali Ikut Sumbang Angka Kemiskinan
Ibadah di Bali (antara)
Denpasar - Badan Pusat Statistik (BPS) Bali merilis angka kemiskinan selama periode Maret-September 2018 di Pulau Dewata yaitu menurun. Meski begitu, pengeluaran untuk acara keagamaan rupanya menjadi salah satu faktor penyumbang angka kemiskinan.

"Pada bulan September 2018, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Bali tercatat pada kisaran 168,34 ribu orang (3,91 persen), turun sebesar 3,42 ribu orang dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2018 yang pada kisaran 171,76 ribu orang (4,01 persen)," demikian petikan data BPS, seperti dikutip detikcom, Rabu (16/1/2019).


Namun, BPS mencatat garis kemiskinan Bali naik sebesar 1,53 persen yaitu Rp 382.598 per kapita per bulan pada Maret menjadi Rp 388.451 per kapita pada September. Dalam temuan BPS, komoditas makanan berkontribusi lebih besar menyumbang garis kemiskinan dibandingkan komoditas bukan makanan.

Untuk komoditi bahan pangan beras, rokok kretek filter hingga kopi masih menjadi penyumbang garis kemiskinan di Bali. Menariknya, dari data komoditi bukan makanan yaitu upacara keagamaan ikut memberikan kontribusi terbesar pada garis kemiskinan di perkotaan maupun pedesaan.

"Pada komoditi bukan makanan, komoditi yang berperan dalam pembentukan garis kemiskinan di perkotaan antara lain: perumahan, bensin, upacara agama atau adat lainnya, listrik dan pendidikan. Adapun komoditi bukan makanan yang berperan dalam pembentukan Garis Kemiskinan di perdesaan antara lain: perumahan, bensin, upacara agama atau adat lainnya, kayu bakar dan listrik," terangnya.

Sebagai perbandingannya untuk warga perkotaan upacara keagamaan ataupun adat 3,22 poin sedangkan di pedesaan sebesar 3,64 poin. Nilai tertinggi untuk komoditi bukan makanan yang menyumbang kontribusi tertinggi yaitu perumahan dengan nilai 9,37 untuk perkotaan dan 10,18 untuk pedesaan.


Sementara itu, ketimpangan pendapatan (gini ratio) di Provinsi Bali juga semakin tinggi. Bila pada Maret 2018 tercatat sebesar 0,377 dan turun menjadi 0,364 pada September 2018.

"Berdasarkan daerah tempat tinggal, Gini Ratio di daerah perkotaan pada September 2018 tercatat sebesar 0,363, turun sebesar 0,018 poin dibanding Gini Ratio Maret 2018 yang tercatat sebesar 0,381. Untuk daerah perdesaan, Gini Ratio September 2018 tercatat sebesar 0,310, turun sebesar 0,007 poin dibanding Gini Ratio Maret 2018 yang tercatat sebesar 0,317," jelasnya. (ams/asp)


Berita Terkait