"Roti masuk ke desa jadi salah satu komoditi berpengaruh pada garis kemiskinan di pedesaan di Banten," kata Kepala BPS Banten Agoes Soebeno saat rilis 'Profil Kemiskinan di Banten', Serang, Selasa (15/1/2019 kemarin.
Namun, selain itu, komoditas yang berpengaruh besar adalah beras, rokok kretek filter, kopi instan, telur ayam, sampai daging ayam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agoes menambahkan, pertambahan 7,38 ribu warga miskin di Banten ini naik 0,01 poin atau dari 5,24 persen jadi 5,25 persen. Kenaikan ini tidak terlalu signifikan dan menempatkan Banten sebagai daerah dengan jumlah warga miskin paling sedikit ke-6 se-Indonesia.
Ia melanjutkan tren penurunan angka kemiskinan Banten sebetulnya turun sepanjang 2002-2018. Tapi ada kenaikan jumlah warga miskin pada periode 2006, September 2013, Maret 2015, September 2017, dan September 2018. Persentase kenaikan jumlah warga miskin ini terjadi di daerah-daerah pedesaan, terutama di Lebak dan Pandeglang.
Lalu, seberapa parahkah tingkat kemiskinan yang ada di Banten?
Untuk persoalan ini, kata Agoes, pada periode Maret-September, dua dimensi itu justru juga mengalami peningkatan. Indeks kedalaman naik dari 0,822 menjadi 0,908 dan indeks keparahan naik dari 0,196 menjadi 0,250.
"Indeks itu mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung semakin menjauh dari garis kemiskinan dan ketimpangan juga semakin melebar," ujarnya. (bri/asp)











































