Selain itu menurutnya cara lainnya yaitu juga bisa dengan mengoptimalkan peran organisasi ekstra sekolah, sebagai wahana pendidikan penerapan budaya demokrasi substansial.
"Sebut saja organisasi ekstra sekolah seperti GSNI (Gerakan Siswa Nasional Indonesia). Lewat GSNI segenap siswa digembleng untuk saling menghargai dan menghormati puspa ragam perbedaan, juga diajari untuk mendengar dan menghormati pendapat orang lain," kata Basarah dalam keterangan tertulis, Selasa (15/1/2019).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya lewat organisasi ekstra sekolah siswa juga didorong mengedepankan musyawarah-mufakat dalam mengambil keputusan, dan menerapkan kultur demokrasi substantif dalam kehidupan sehari-hari.
"Inilah yang disebut dengan demokrasi substansial yang diajarkan sejak dini," katanya.
Basarah menjelaskan internalisasi budaya demokrasi substansial dalam diri remaja sifatnya mendesak. Setidaknya ada dua hal yang menjadi latar belakangnya.
Pertama adalah dalam faktanya penerapan demokrasi di Indonesia selama ini baru sebatas demokrasi prosedural saja. Akibatnya, demokrasi hanya dipahami sebatas saat berlangsungnya kontestasi elektoral dalam memilih pemimpin saja.
Sedangkan alasan kedua adalah soal karakteristik remaja. Menurut pakar psikologi/kejiwaan Elisabeth Hurlock dalam bukunya Development Psychology, salah satu ciri remaja yang paling menonjol adalah ketidakseimbangan emosial dan pencarian terhadap identitas diri.
"Jadi remaja ini punya rasa penasaran yang tinggi. Kondisi semacam inilah yang cukup rawan. Jika tidak memiliki bekal ilmu dan agama yang kuat, bukan mustahil remaja akan jatuh atau terjerat dengan ideologi-ideologi asing yang belum tentu cocok dengan kepribadian bangsa Indonesia," katanya.
Basarah melajutkan, tidak jarang dalam praktiknya penyebaran ideologi-ideologi transnasional tersebut pun menggunakan kecanggihan teknologi informasi.
Ia pun menegaskan bahwa remaja dan pemuda merupakan aset penting bangsa Indonesia yang harus dijaga dan dirawat. Maka tidak mengherankan jika banyak tokoh-tokoh besar yang memberikan atensi besar kepada pemuda.
Misalnya Ulama Mesir tersohor Syeikh Yusuf Al-Qardhawi yang menyebut "Jika ingin melihat suatu bangsa di masa depan, maka lihatlah pemudanya di hari ini". Bahkan Bung Karno pernah berpidato dengan nada yang sangat optimis tentang pemuda dengan menyebut "Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia".
"Pemuda inilah yang menjadi ujung tombak sekaligus duta-duta yang aktif dalam mengampanyekan nilai-nilai toleransi, kerukunan sosial dan persaudaran sebagai karakter bangsa Indonesia. Perbedaan dalam demokrasi adalah sebuah keniscayaan," jelasnya.
"Lawan berkompetisi adalah teman berdemokrasi dan lawan berdebat adalah temen berfikir. Ke depan harapan kita semua demokrasi substantif terus berkembang," pungkasnya. (ega/prf)











































