PSI Sesalkan Pindah Kuburan Gegara Beda Pilihan Caleg: Tragedi Kemanusiaan!

Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
Minggu, 13 Jan 2019 14:47 WIB
Foto: Juru bicara PSI Mohamad Guntur Romli. (Wildan/detikcom)
Jakarta - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menyesalkan kasus pemindahan 2 kuburan di Gorontalo yang membuat heboh. PSI menilai kasus pemindahan jenazah karena perbedaan pilihan caleg itu merupakan tragedi kemanusiaan.

"PSI menyesalkan peristiwa ini, makam harus dibongkar dan dipindahkan hanya gara-gara perbedaan pilihan caleg, ini tragedi kemanusiaan," kata Juru Bicara PSI Guntur Romli dalam keterangan tertulisnya kepada wartawan, Minggu (13/1/2019).


Kuburan yang dipindahkan adalah kuburan almarhum Masri Dunggio, yang sudah dimakamkan 26 tahun lalu, dan almarhumah Sitti Aisya Hamzah, yang baru setahun dimakamkan di halaman belakang milik warga bernama Awono. Pemindahan kuburan itu dilakukan di Desa Toto Selatan Kecamatan Kabila, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo.

Pemindahan kuburan itu dipicu bahasa 'kalau kamu tidak pilih, ada yang mati tidak bisa dikuburkan di sini. Itu kuburan Masri harus dipindah' dan 'Kamu kalau tidak pilih Nani atau Iriani (Caleg DPRD Bone Bolango Partai Nasdem, Iriani Manoarfa) itu kuburan pindah dan ini saya pagar (jalan)' yang disampaikan Awano. Awano merupakan saudara ipar dari Nani.


2 kuburan dipindahkan karena beda pilihan calegFoto: 2 kuburan di Gorontalo dipindahkan karena beda pilihan caleg dengan pemilik tanah. (Ajis Halid/detikcom)

Menurut Guntur Romli, tidak seharusnya perbedaan politik memengaruhi hubungan sesama manusia. Apalagi hal itu sampai berdampak pada orang yang sudah meninggal yang tidak memiliki keterkaitan dengan pilihan politik.

"Pilihan politik itu hanya bagi yang hidup, mengapa yang sudah meninggal diseret-seret, sampai makam dibongkar dan dipindahkan, ini menunjukkan matinya nurani kebersamaan kita," katanya.

Guntur lantas menyinggung persoalan penolakan jenazah saat Pilkada DKI tahun 2017 lalu. Dia berharap, tragedi ini tidak terulang lagi ke depannya.

"Peristiwa ini seperti mengulang Pilkada DKI, yang tidak nyoblos gubernur seiman sampai diancam tidak diurus jenazahnya dan dimakamkan, kami berharap ini menjadi kasus terakhir, ini tragedi kebangsaan kita," pungkas Guntur. (mae/gbr)