DetikNews
Sabtu 12 Januari 2019, 17:17 WIB

Ojek Sepeda Ontel Jakarta Bertahan dengan Pendapatan Tak Menentu

Adhi Indra Prasetya - detikNews
Ojek Sepeda Ontel Jakarta Bertahan dengan Pendapatan Tak Menentu Ojek sepeda ontel di seberang pintu selatan Stasiun Jakarta Kota. (Adhi Indra Prasetya/detikcom)
Jakarta - Di tengah perkembangan ojek sepeda motor berbasis online, para tukang ojek sepeda ontel masih beroperasi. Para pengayuh pedal itu bertahan dengan penghasilan tak menentu.

Para tukang ojek sepeda di Jakarta berpenghasilan tak menentu. Namun ada hal yang membuat mereka bersyukur sehingga mampu bertahan di tengah perkembangan zaman.

Di sekitar pintu utara Stasiun Jakarta Kota, Darmadi nongkrong di dekat pagar besi berwarna hijau. Dia menoleh kanan-kiri sambil berharap ada orang yang membutuhkan jasanya.

"Ya namanya begini kan, kadang nggak dapat ya nggak apa-apa. Besok dapat," kata Darmadi, Kamis (3/1/2019). Dengan topi hijaunya, penampilan Darmadi seperti pria berusia 40 tahunan. Tapi dia mengaku sudah berusia 60 tahun.



Pria asal Solo, Jawa Tengah, ini sudah menarik ojek sepeda ontel sejak 1982. Saat itu, ojek sepeda merupakan pekerjaan yang banyak menjadi pilihan rekan-rekannya. Darmadi, yang semula bekerja sebagai buruh, kemudian ikut menjadi tukang ojek sepeda sejak saat itu. Jadilah dia sebagai satu dari sekitar 15 tukang ojek sepeda yang masih bertahan di kawasan stasiun ini.

Ojek Sepeda Ontel Jakarta Bertahan dengan Pendapatan Tak MenentuTukang ojek sepeda, Darmadi, di Stasiun Jakarta Kota. (Adhi Indra Prasetya/detikcom)

Bekerja selepas subuh hingga lewat pukul 19.00 WIB, Darmadi mengenakan tarif ojek Rp 7 ribu untuk jarak dekat, Rp 10 ribu untuk jarak menengah sampai Pelabuhan Sunda Kelapa sejauh kurang-lebih 2,2 km, dan Rp 15 ribu untuk jarak jauh sampai Ancol sekitar 4 km. Pria berusia kepala enam ini bisa mengantar penumpang lebih jauh dari itu, misalnya sampai ke Monas dan ke Stasiun Senen melampaui jarak 6,5 km. Namun tak selalu ada orang yang memakai jasanya. Itulah penyebab penghasilannya tak menentu.

"Ya nggak tentu. Kadang Rp 50 ribu, kadang Rp 60 ribu, kadang Rp 80 ribu per hari," kata Darmadi. Duit Rp 50 ribu dinilainya cuma cukup untuk beli kopi dan jajan ringan di Jakarta.

Namun setidaknya, dia berhasil membesarkan dua anaknya hingga bisa mandiri. Kini penghasilannya hanya untuk menghidupi dia dan istrinya.

Dia merasa semakin susah mendapatkan penumpang sepeda ontel di zaman sekarang. Soalnya, ojek berbasis aplikasi daring ada di mana-mana dan mudah diakses, sehingga ojek sepeda yang dia lakoni semakin tersingkir. Padahal dulu pegawai-pegawai bank hingga kantor pajak sering menggunakan jasanya.

"Sekarang pada naik ojek online semua," ujar Darmadi.



Setali tiga uang dengan Darmadi, Syahirin (42) merasa ojek daring menjadi pesaing ojek sepeda ontel dalam mencari rezeki. Penghasilan bersih per hari sebesar Rp 50 ribu disebutnya hanya cukup untuk makan dan ngopi sehari. Padahal dulu, dia bisa mendapat Rp 200 ribu per hari.

"Setelah ada online, penghasilan menurun. Ya susahlah. Saingan berat itu, karena kan online lebih murah," kata Syahirin sambil memegang sepeda bututnya, payung merah menyelip di antara rangka besi karatan. Dia kemudian duduk sejenak di bawah pohon persis di pengkolan, berlindung dari sorotan matahari sekitar pukul 13.00 WIB.

Ojek Sepeda Ontel Jakarta Bertahan dengan Pendapatan Tak MenentuSyahirin, penarik ojek sepeda ontel di Stasiun Jakarta Kota. (Adhi Indra Prasetya/detikcom)

Syahirin sudah menjadi tukang ojek sepeda sejak 2009. Pria asli Brebes ini tinggal di dalam masjid karena menjadi marbut. Dengan demikian, pengeluarannya bisa lebih diminimalkan.

"Kalau sudah magrib, saya sudah nggak balik ngojek lagi, saya jadi marbut ngurus masjid. Kalau ngejar duit mah nggak ada cukupnya," ujarnya yang bersyukur masih bisa menunaikan kewajiban ibadah agamanya karena bekerja sebagai marbut. "Alhamdulillah." Dari pekerjaan ini, dia menghidupi anaknya di Brebes yang sudah kelas 3 SMA dan masuk pesantren. Anak keduanya masih duduk di kelas 3 SD. Dia masih punya satu bayi.

Di sebelah selatan Stasiun Jakarta Kota, ada Thamrin, yang juga tengah mangkal menunggu penumpang. Sambil berlindung dari terik, dia menceritakan kondisi pada 2006 saat pertama kali narik ojek sepeda. Saat itu masih banyak orang yang menggunakan jasanya untuk pergi ke Glodok, mengantar orang yang hendak berjualan, atau yang hendak mencari CD serta kaset bajakan. Seiring dengan surutnya pamor CD dan kaset, surut pula rezekinya sebagai ojek sepeda. Namun untuk saat ini, dia tetap bersyukur bisa mendapat uang Rp 100 ribu dalam sehari.

Ojek Sepeda Ontel Jakarta Bertahan dengan Pendapatan Tak MenentuThamrin, tukang ojek sepeda ontel di Stasiun Jakarta Kota. (Adhi Indra Prasetya/detikcom)

"Kalau lagi sepi ya, hari Sabtu, Minggu, dan Senin itu, ibaratnya buat makan doang, kadang Rp 50 ribu sehari," kata Thamrin, yang berusia 48 tahun.



Saya pindah posisi ke kawasan Pasar Pagi Lama Asemka, Jakarta Barat. Di sini ada belasan penarik ojek ontel. Salah satunya Trimo (57), yang sudah dua dekade terakhir mengayuh sepeda.

"Sekarang ini penumpangnya agak kurang. Sudah begitu, banyakan ojek online, kita kalah murah," kata Trimo.

Beruntung, Trimo dan para penarik ojek sepeda di sini mangkal di dekat pasar. Aktivitas di pasar membutuhkan jasa mereka, tak sekadar mengantar orang, tapi juga kebanyakan mengantar barang.

"Jujur aja ya, kalau lagi rezeki sih suka dapat Rp 150 ribu atau Rp 100 ribu. Kalau lagi sepi-sepinya ya Rp 70 ribu sampai Rp 80 ribu. Dapat aja sih di sini," kata Trimo, yang punya tiga anak, sambil bersyukur. Anak sulungnya sudah menikah sehingga kini tersisa dua anak yang masih dia nafkahi.

Jamari (41) juga sama. Penghasilan terbesarnya berasal dari gabungan mengantar orang dan barang. Dari Pasar Asemka ini, dia biasa mengantar barang sampai Tanah Abang, sejauh sekitar 8,5 km.

"Bukannya sombong ya, per minggu bisa sampai Rp 1 juta. Tapi kalau nggak ada rezeki ya paling Rp 600 ribu sampai Rp 700 ribu," kata dia. Untuk menambah penghasilan, kadang dia juga menjadi kuli panggul, melaksanakan orderan kenalannya di pasar ini. Soal persaingan dengan ojek sepeda motor online, dia tak mau menyalahkan keadaan.

"Namanya juga sama-sama usaha," kata dia.

Simak berita-berita detikcom tentang ojek sepeda dan pesepeda.
(dnu/dnu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed