DetikNews
Sabtu 12 Januari 2019, 11:17 WIB

Ojek Sepeda Ibu Kota, Riwayatmu Kini

Danu Damarjati - detikNews
Ojek Sepeda Ibu Kota, Riwayatmu Kini Foto ilustrasi ojek sepeda. (Rengga Sencaya/detikcom)
Jakarta - Tahun 2019 ini, kaki-kaki mereka masih mengayuh pedal di atas aspal Ibu Kota. Mereka bukan tukang becak yang belakangan keberadaannya didukung Gubernur Anies Baswedan, melainkan tukang ojek sepeda.

Ojek sepeda masih dapat ditemui di seputar Stasiun Jakarta Kota dan Pasar Pagi Lama Asemka di kawasan Jakarta Barat serta di seputar Tembok Bolong, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Ada pula ojek sepeda yang telah berevolusi di kawasan Kota Tua.

Mereka para penarik ojek sepeda dapat ditemui di sejumlah titik Jakarta. Rata-rata usianya sudah lewat paruh baya. Mereka adalah orang-orang tua dengan sepeda tua.



detikcom menemui mereka. Di Stasiun Jakarta Kota, ada Syahirin, Darmadi, dan Thamrin, yang mau berbagi cerita tentang pekerjaan mereka. Di Pasar Pagi Lama Asemka, ada tukang ojek sepeda yang beroperasi, di antaranya Jamari dan Trimo. Di Tanjung Priok, Slamet masih setia mengayuh ontel sejak setengah abad silam.

Penampilan sepeda mereka rata-rata sama, yakni sepeda ontel yang catnya sudah mengelupas. Jok belakang dibuat empuk dengan lapisan busa supaya penumpang tak kesakitan saat membonceng. Jalu sepeda yang lebih panjang dipasang di kanan dan kiri roda belakang, sebagai pijakan kaki penumpang. Kadang sadel sepeda dibungkus kain atau kresek. Sepeda-sepeda seperti itulah yang menjadi alat pencari nafkah mereka.

Ojek Sepeda Ibu Kota, Riwayatmu Kini Ojek sepeda ontel di seberang pintu selatan Stasiun Jakarta Kota. (Adhi Indra Prasetya/detikcom)

Kayuhan mereka tak semakin ringan melewati zaman. Ojek tanpa polusi pembakaran bahan bakar minyak ini jelas kalah cepat dan kalah canggih ketimbang ojek sepeda motor, apalagi yang berbasis daring. Penghasilan ojek sepeda juga tak seberapa.

Bukannya tak mencoba beralih profesi yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman, mereka pernah menjajal usaha lain tapi tak sukses. Ada pula kendala lain yang merintangi mereka berubah menjadi pengemudi ojek daring.



Jadi tukang ojek sepeda pun mereka sudah bersyukur. Sebagian dari mereka bercerita, mengojek sepeda membawa efek kesehatan. Bahkan penyakit yang sebelumnya mereka derita bisa sembuh gara-gara ngontel.

Mereka punya prediksi tentang masa depan pekerjaan ramah lingkungan ini. Prediksi mereka bernada pesimistis.

Para penarik ojek sepeda ontel masih bertahan hingga kini dengan sedikit harapan yang masih tersisa di batin. Apakah mereka merupakan generasi terakhir?

Simak berita-berita detikcom tentang ojek sepeda dan pesepeda.
(dnu/dnu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed