Soyfyan Djalil optimis AMM hengkang dari Aceh April 2005
Jumat, 09 Sep 2005 00:06 WIB
Jakarta - Aceh Monitoring Mission (AMM) memiliki waktu maksimal satu tahun untuk mengawasi pelaksanaan MoU RI-GAM. Tapi, Menkominfo Sofyan Djalil optimis AMM sudah angkat kaki dari Aceh bulan April 2006."Pada bulan Desember 2005, paling banyak AMM yang tinggal hanya 40 orang. Saat Pilkada di Aceh April 2006, saya yakin AMM sudah tidak ada lagi," kata Sofyan optimis.Hal itu dikatakan Sofyan saat menjadi pembicara dalam seminar 'Indonesia Pasca Pertemuan Helshinki' di Hotel Hilton, Jl. Sudirman, Jakarta (8/9/2005) malam. Turut sebagai pembicara, Mantan Wakasad Kiki Syahnarki, diplomat senior RI Hasyim Jalal, dan Syahganda dari PPMI.Sofyan yakin, jika MoU dilaksanakan dengan baik oleh RI maupun GAM, maka perdamaian di Aceh akan segera tercapai. "Kalau senjata GAM sudah tidak ada lagi, kan pekerjaan AMM semakin berkurang," ujarnyanya.Dalam Status of Mission Agreement (SoMA), disepakati jika masa tugas AMM hanya selama enam bulan, dan diperpanjang maksimal enam bulan. Namun Sofyan membantah jika pemerintah membatasi wewenang AMM di Aceh."Tidak seperti itu. Kalau ada sengketa, maka kita (AMM dan RI) akan membahas bersama. Sejauh ini hubungan AMM dan pemerintah Indonesia baik sekali," kata Sofyan kepada wartawan, di sela-sela seminar.Dalam seminar yang diadakan okleh Lingkar Madani untuk Indonesia (Lima) itu, Sofyan memang dicecar pertanyaan negatif seputar MoU. Tidak hanya peserta seminar, para pembicara pun meragukan implementasi dari MoU.Meski demikian, Sofyan yang termasuk anggota delegasi Indonesia dalam pertemuan Helsinki, menjawab semua pertanyaan dengan gamblang. Ia tetap optimis, MoU adalah solusi perdamaian di Aceh."Dengan GAM menerima NKRI, maka keinginan untuk merdeka sudah tidak ada lagi. Kita harus percaya bahwa MoU bisa menyelesaikan masalah Aceh," tukasnya.
(fab/)











































