Polisi menyebut ES dan TN hapal dengan klien atau pengguna jasa yang mereka tawarkan. Tidak hanya itu, mereka disebut memiliki sistem yang berbeda dalam menawarkan jasa prostitusi artis.
Biasanya, muncikari biasa menerima pemesanan melalui platform seperti WhatsApp dan transaksi dilakukan dengan transfer. Sedangkan ES dan TN menggunakan metode yang berbeda, yakni dengan mengharuskan klien bertatap muka dengan muncikari saat melakukan pemesan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Spesifikasi daripada ES dan TN bukan muncikari biasa. Kalau biasa lewat komunikasi yang namanya WA. Tetapi ES dan TN harus tahu wajah dari pelanggannya," sambung Barung.
Selain para pejabat yang masuk sebagai daftar pelanggan, prostitusi yang melibatkan Vanessa Angel ini ternyata ada yang berasal dari pengusaha. Kasubdit V Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Jatim AKBP Harissandi menuturkan pemesan layanan prostitusi artis ini lebih banyak dari kalangan pengusaha.
"Ada (pejabat). Tapi rata-rata pengusaha," kata Harissandi pada Senin (7/1).
Para pejabat dan pengusaha ini disebut dapat memesan para artis dari mana saja tidak hanya dari Jakarta. Bahkan kedua mucikari ini disebut menawarkan layanan sesuai dengan permintaan pelanggan.
Harissandi mengatakan ada pula yang meminta layanan dari para artis ini ke luar negeri. Hal ini dilakukan karena adanya pelanggan yang takut ketahuan jika melakukan pemesanan dan hubungan badan di Indonesia.
"Ada yang takut ketahuan di sini (Indonesia), makanya minta ke luar negeri," lanjutnya.
Senada dengan Harissandi, Kapolda Jatim Irjen Luki Hermawan menyebut para artis ini juga dilirik pelanggan dari luar negeri. Luki mengatakan pihaknya telah mendapatkan data pemesanan dari luar negeri.
"Semua kota tergantung pesanan. Bahkan dari luar negeri ada. Kami dapatkan dari luar negeri," tutur Luki.
Saksikan juga video 'Penjelasan Polisi soal Transaksi dan Uang di Kasus Vanessa Angel':
(dwia/aan)