Pembangunan SUTET Jalur Selatan Macet di Depok
Rabu, 07 Sep 2005 23:57 WIB
Jakarta - Pembangunan SUTET (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi) jalur selatan 500 KV macet. Kemacetan ini terjadi di area Depok, Jawa Barat. Pemerintah Daerah (Pemda) setempat didesak untuk turun tangan. Tujuannya, agar pembangunan dapat selesai pada 1-2 bulan ini. "Masalah pembangunan SUTET yang awalnya bermasalah dengan masyarakat Yogyakarta, Bantul, Klaten, Depok. Kini, tinggal Depok yang belum selesai," kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro dalam rapat kerja dengan DPD di Gedung DPR, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (7/9/2005).Purnomo menambahkan, pemerintah pusat mendesak pemda turut aktif menyukseskan pembangunan SUTET. Pemerintah pun tetap berupaya mempercepat pembangunan SUTET jalur selatan sehingga, sistem listrik Jawa, Madura dan Bali (Jamali) dapat bebas black out."Jika semua masalah beres, satu hingga dua bulan ini pembangunan selesai. Sebab, tower sudah ada, tinggal tarik kabel dengan tegangan 500 KV," tutur pria kelahiran Semarang ini. Bagaimana tuntutan dana kompensasi yang tinggi dari masyarakat yang wilayahnya dilalui jalur SUTET? "Semua sudah dianggarkan, " jawab pria lulusan University of Colorado at Boulder Main Campus ini. Menurut ayah tiga anak ini, permasalahan yang sedang dihadapi pemerintah bukanlah keuangan melainkan ada unsur politisasi jalur SUTET. "Sekarang sudah bukan masalah budget, tapi masalah sosial politik," sesal Purnomo. Padahal, lanjut Purnomo, dengan adanya jalur selatan, penduduk setempat seharusnya ikut senang. Sebab, ada kepastian pasokan listrik dan mengurangi resiko pemadaman atau black out. Pemda Turun TanganSenada dengan Purnomo, Dirjen ESDM Djoko Darmono menyampaikan, permasalahan di daerah Yogyakarta, Bantul dan Klaten sudah selesai berkat keterlibatan pemda. Untuk kasus Kresen, Kabupaten Bantul, Djoko menduga ada campur tangan pihak ketiga yang memberi masukan agar warga memasang harga kompensasi tinggi. "Warga juga menuntut agar jalur SUTET dibelokkan sebab warga mengkhawatirkan gangguan kesehatan pascapembangunan jalur SUTET di wilayahnya," ungkap Djoko.Djoko menceritakan, dua minggu lalu, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X menemui warga Kresen yang rumahnya dilewati jalur SUTET. Sri Sultan ingin mendengarkan secara langsung keluhan warga. "Setelah itu, Dirut PLN menemui dan menyanggupi kompensasi. Namun, Dirut PLN menolak pembelokan jalur dengan alasan teknis. Atas permintaan Sultan, akhirnya disepakati tower ditinggikan," beber Djoko.
(ism/)











































