Siap-siap, Bulan Oktober Listrik di Bali Berstatus Siaga

Siap-siap, Bulan Oktober Listrik di Bali Berstatus Siaga

- detikNews
Rabu, 07 Sep 2005 22:15 WIB
Bali - Listrik di Bali pada minggu ketiga bulan Oktober dalam status siaga. Sebab, persediaan pembangkit listrik tenaga air di Jawa menipis. "Jangan sampai ada pembangkit yang rusak. Kalau ada pembangkit yang rusak maka akan terjadi defisit. Sehingga kita harus mengurangi beban puncak," kata General Manager PT PLN Distribusi Bali Ngurah Adnyana di Warung Ajengan, Jalan Sedap Malam, Denpasar, Rabu (07/09/2005). Menipisnya persediaan pembangkit listrik tenaga air di Jawa, karena musim kemarau. Selain itu, beberapa pembangkit di Jawa juga memerlukan pemeliharaan.Pada status siaga itu, menurut Adnyana, cadangan listrik di Bali hanya mencapai 200 MW. Sehingga, kondisi listrik disebut siaga. Seharsusnya, batas minimum cadangan listrik pada sistem kelistrikan Jawa-Bali adalah 600 MW. Kondisi ini akan bertambah parah apabila ada pembangkit listrik yang rusak. Bila ada pembangkit listrik yang rusak, maka cadangan berkurang. Apalagi, suatu sistem memiliki cadangan yang minus. Akibatnya,maka kemampuan pembangkit akan lebih kecil daripada perkiraan beban yang akan terjadi. Artinya, sistem tenaga listrik dalam kondisi defisit. "Pada kondisi ini akan terjadi pemadaman listrik di jaringan Jawa-Bali," ujar Adnyana. Menurut Adnyana, pada tanggal 11-23 September 2005, cadangan listrik mencapai 781 MW (normal). Tanggal 22 Oktober hingga 5 Nopember 2005 juga aman, kemudian pada tanggal 6 Nopember hingga 3 Desember kembali siaga. "Status kembali menjadi kondisi aman dan normal mulai tanggal 4 Desember hingga akhir tahun 2005," ungkap dia.Namun Adnyana mengatakan, kondisi kelistrikan di Bali pertumbuhannya masih lebih tinggi dari rata-rata nasional atau rata-rata sistem listrik Jawa-Bali. "Tahun 2005 pertumbuhan listrik sebesar 11 persen, sedangkan tahun 2004 pertumbuhannya 13 persen," tutur Adnyana.Adnyana memprediksi, cadangan listrik di Bali hanya cukup hingga tahun 2008. Setelah itu, Bali harus mendapatkan tambahan listrik. "Dengan pertumbuhan seperti itu, kita memerlukan tambahan pembangkit setiap tahun. Semakin lama kita menunda untuk membangun pembangkit baru, maka potensi krisis listrik di Bali akan semakin besar," urai Adnyana. Kemampuan seluruh listrik di Bali sekitar 330 MW terdiri dari PLTGU dan PLTG Pesanggaran 160 W, PLTG Gilimanuk 130 MW, PLTG Pearon 40 W. Sedangkan, transfer daya listrik dari sistem Jawa-Bali melalui kabel laut 150 KV yang melintas di Selat Bali, sekitar 200 MW. Sehingga, total pasokan daya listrik untuk Bali sebesar 530 MW. (ahm/)


Berita Terkait