DetikNews
Jumat 04 Januari 2019, 15:49 WIB

Calon Hakim Agung Cholidul Azhar Dicecar soal Transaksi Gestun

Yulida Medistiara - detikNews
Calon Hakim Agung Cholidul Azhar Dicecar soal Transaksi Gestun Seleksi Calon Hakim Agung Cholidul (Yulida/detikcom)
Jakarta - Calon Hakim Agung Cholidul dicecar mengenai transaksi gesek tunai (gestun) dalam wawancara terbuka seleksi hakim agung di Komisi Yudisial. Cholidul menjelaskan hal itu dilakukannya untuk membeli tiket pesawat saat pulang ke rumahnya.

Awalnya salah satu penguji tes wawancara yang juga anggota KY, Sukma Violetta menanyai rekam jejak Cholidul yang pernah melakukan transaksi gesek tunai. Namun Cholidul menjelaskan waktu itu terjadi pada saat bertugas di Makassar, ia membeli tiket pesawat melalui online menggunakan kartu kredit untuk pulang ke rumahnya di Malang.



"Dari catatan yang kami terima, bapak banyak melakukan transaksi Gesek Tunai, silahkan bapak jelaskan?" tanya Sukma dalam wawancara terbuka, di KY, Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat, Jumat (4/1/2019).

"Ketika di Makassar, sementara keluarga saya memang tidak selamanya ikut ke Makassar, kadang-kadang saya harus pulang. Untuk pulang itu jalan yang didahului pakai pesawat udara, dengan sistem pembelian tiket pesawat udara saat ini, pembelian tiket lewat online. Dan itu cukup bisa lewat laptop, tapi semua itu bisa dilakukan dengan kartu kredit. Nah dalam konteks itu penggunaan kartu kredit lewat transaksi online," jawab Cholidul.

Sukma meminta penjelasan lagi mengenai transaksi gesek tunai itu, sebab berdasarkan pengetahuannya gesek tunai bertujuan untuk mendapatkan uang. Sementara gesek kartu kredit bertujuan untuk mendapatkan barang.

Menanggapi pertanyaan itu, Cholidul menjelaskan gesek tunai yang dilakukan misalnya ada saldo di kartu kreditnya yang kemudian dibelikan emas. Selanjutnya emas tersebut dijual kembali sehingga ia mendapatkan uang.

"Dulunya tidak seperti itu karena pengetahuan gesek tunai itu baru berkembang belakangan, semula ketika kami butuh uang, tapi di saldo kartu kredit ada, saya pergi ke toko emas, saya bilang beli emas dengan kartu kredit. Kemudian dikasihkan emasnya, terus emas itu saya jual lagi. Saya dikasih lah uangnya, semula seperti itu," ucap Cholidul.



"Tapi belakangan saya ketahui dari info iklan di koran, bahkan ditampilkan di tokonya, gesek tunai ketika saya datang ternyata lebih sederhana seperti itu, pengertiannya beli barang seperti itu, dan dijual lagi saya dapat uang," imbuh Cholidul.

Sukma menyebut transaksi gesek tunai kini dilarang Bank Indonesia. Sukma lalu menanyakan lagi soal pelarangan tersebut, apakah Cholidul mengetahuinya atau tidak.

Menjawab hal itu Cholidul mengaku mengetahui transaksi gesek tunai dilarang, tetapi ia mengaku heran masih ada counter yang leluasa dan memasang iklan transaksi gesek tunai. Ia berpendapat semestinya jika dilarang maka seharusnya ditutup semua.

Cholidul kembali dicecar mengenai sikapnya, Sukma menanyakan apakah pantas seorang aparat penegak hukum melakukan hal yang dilarang. Merespon pertanyaan itu, Cholidul mengaku akan menutup semua kartu kreditnya.

"Bapak seorang hakim, tentu diharapkan aparat penegak hukum atau hakim ketika peraturan itu dilarang tapi praktiknya tetap ada, apakah pas kita mengikuti praktik yang kita tahu itu dilarang?" tanya Sukma.

"Sebenarnya penyelesaiannya ini mudah, nanti ketika saya punya uang, saya akan tutup semua kartu kredit, dan saya gak akan lakukan Gesek tunai lagi. Cuma itu saja," jawab Cholidul.

Sementara itu menurut Sukma, BI melarang adanya transaksi gesek tunai untuk menghindari praktik pencucian uang. Namun Cholidul menjelaskan hal yang dia lakukan bukanlah pencucian uang.

"Memang salah satu pencucian uang seperti itu, tetapi apa yang saya lakukan bukan pencucian uang. Karena, ketika saya melakukan Gesek tunai itu gaji saya masuk ke sana. Jadi harusnya dari transaksi PPATK tahu uang itu bersumber dari gaji saya, masuk kesana, tapi setelah itu saya tarik lagi," ucap Cholidul.

"Cuma itu saja, tidak ada uang lain yang masuk ke gaji atau rekening saya. Tapi, kalau memang dimanfaatkan oleh pihak-pihak lain melakukan pencucian uang, barangkali bisa," imbuh Cholidul.
(yld/rvk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed