detikNews
Rabu 02 Januari 2019, 19:54 WIB

Wawancara Eksklusif

Habib Luthfi bin Yahya: Habib Kan Bukan Nabi

Erwin Dariyanto - detikNews
Habib Luthfi bin Yahya: Habib Kan Bukan Nabi Habib Luthfi, berbaju putih (Harviyan Perdana Putra/Antara Foto)
Jakarta - Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya berbicara tentang asal-muasal pemberian gelar 'habib' yang diberikan kepada keluarga Nabi Muhammad SAW. Gelar itu diberikan sebagai bentuk kecintaan umat kepada keluarga Nabi.

Sebutan habib bukan hanya ada di Indonesia, tapi juga ada di Hadramaut di Yaman. Di beberapa wilayah di Indonesia, sebutan untuk gelar itu berbeda-beda. Di Cirebon misalnya disebut 'sayid', di daerah lain ada yang memberi gelar 'syarif'. Di Padang, Sumatera Barat, dan Aceh, keluarga Nabi diberi gelar 'sidi'.

Namun apa pun gelar yang disematkan, Habib Luthfi mengingatkan, habib bukanlah nabi yang maksum atau terjaga dari kesalahan. "Habib kan bukan nabi, bukan yang dimaksum. Wajar wajar saja kalau ada oknumnya (habib) melakukan maksiat," kata Habib Luthfi dalam sesi Wawancara Eksklusif detikcom yang tayang Rabu, 2 Januari 2019.



Hanya, dia meminta, jika ada satu oknum habib yang melakukan maksiat, tidak kemudian dianggap semua habib jelek. "Kita menghargai keturunannya (Nabi) tetap, tetapi kita tetap tidak terima kemaksiatannya," papar Habib Luthfi.

Di Indonesia, cendekiawan muslim Quraish Shihab sebenarnya layak menyandang gelar habib. Kakek Quraish, Habib Ali bin Abdurrahman Shihab, berasal dari Hadramaut. Selain silsilah, secara keilmuan, tak ada yang meragukan Quraish Shihab.



Namun Quraish menolak dipanggil habib. Dalam buku 'Cahaya, Cinta dan Canda Quraish Shihab' terbitan Lentera Hati yang ditulis oleh Mauluddin Anwar dkk, diceritakan Quraish hanya mau dipanggil habib oleh cucunya, karena lebih cocok berdasarkan artinya.

Dalam bahasa Arab, habib berakar dari kata cinta. Jadi habib berarti 'yang mencintai' atau bisa juga 'yang dicintai'. Tetapi kemudian maknanya berkembang menjadi suatu istilah, habib adalah orang teladan, orang baik yang berpengetahuan, dan seseorang yang berhubungan dengan Rasulullah.

Menurut Quraish, gelar habib tidak bisa diberikan kepada sembarang orang. Sebangun dengan gelar kesarjanaan, yang harus ada usaha untuk mendapatkannya, maka habib pun harus ada usaha, terutama dari akhlaknya.

"Saya merasa, saya butuh untuk dicintai, saya ingin mencintai. Tapi rasanya saya belum wajar untuk jadi teladan. Karena itu, saya tidak, belum, ingin dipanggil habib," kata Quraish merendah.
(erd/jat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com