Menebak Penyebab Jatuhnya Mandala
Rabu, 07 Sep 2005 13:16 WIB
Jakarta - Penyebab jatuhnya pesawat Mandala Airlines sampai saat ini masih diselidiki oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi Udara (KNKT). Dibutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk mengetahui kepastian penyebab kecelakaan ini.Sampai saat ini, tim investigasi KNKT masih mengumpulkan berbagai fakta dan data terkait dengan tragedi yang menewaskan sekitar 100 penumpang dan awak pesawat ini. Baik itu potongan-potongan pesawat, kotak hitam maupun keterangan para saksi dan korban selama penerbangan.Berbagai dugaan berkembang terkait jatuhnya pesawat. Baik yang disebabkan kerusakan mesin, kebakaran, kebocoran tangki bahan bakar, sampai ke dugaan kemungkinan human error. Terhadap berbagai dugaan ini, Ketua KNKT Setyo Rahardjo hanya berucap singkat. "Semua dugaan itu akan kami selidiki. Semua serba mungkin," kata Setyo Rahardjo saat dihubungi detikcom melalui sambungan telepon, Rabu (7/9/2005).Beberapa dugaan yang muncul, pesawat Mandala gagal terbang karena mesin jet pendorong rontok saat lepas landas. Jika mesin jet ini tak berfungsi, akibatnya pesawat kehilangan tenaga dan gagal terbang. Seorang petugas di Mandala sempat ada yang menyebutkan, 2 hari sebelumnya pesawat naas tersebut mengalami kerusakan mesin. Namun ini segera dibantah manajemen Mandala.Sempat juga beredar spekulasi bahwa pesawat naas ini kelebihan beban (overload). Seperti diketahui, daya angkut pesawat Boeng 737-200 bernomor penerbangan RI-091 ini mampu mengangkut beban maksimal 52 ribu kilogram. Namun, pesawat Mandala yang jatuh pada Senin (5/9/2005) di kawasan Padang Bulan, Medan, ini membawa beban 51.997 kg, atau hanya selisih 3 kg dari beban maksimal. Terhadap dugaan ini, anggota KNKT Prita Wijaya menampik tudingan ini. "Kami sudah selidiki beban keseluruhan. Tak mengarah ke situ," ujarnya.Dugaan lain yang berkembang adalah human error, akibat pilot kelelahan. Seperti diketahui, pilot Askar Timur (34) tercatat tiga hari berturut-turut sejak Sabtu hingga Senin menerbangkan pesawat Mandala Airlines. Padahal jam kerja pilot disebut-sebut sehari kerja sehari libur untuk menghindari kelelahan.Dugaan ini dibantah oleh Koordinator Humas Mandala Airlines Alexius Widjojo Tjundho."Jam terbang kapten pilot sekitar 7.300. Jadi sudah memenuhi ketentuan dan persyaratan dari Perhubungan Udara, secara fisik maupun skill hasilnya baik," ujar Alexius.Persoalan ujung landasan pacu Bandara Polonia sempat menjadi bahan gunjingan penyebab kecelakaan. Sejak bencana alam gempa dan tsunami di Aceh, intensitas penerbangan di Bandara Polonia sangat tinggi. Ada yang menduga, ujung landasan menjadi tidak maksimal lagi. Terhadap dugaan ini, Direktur Mandala Airlines, Asril Tandjung berujar singkat. "Ya mungkin saja. Tapi harus diselidiki," ujarnya di Bandara Polonia Selasa (6/9/2005).Toh mesti banyak dugaan muncul, kepastian penyebab jatuhnya Mandala masih menunggu analisis cockpit voice recorder dan fligth data recorder yang akan dikirim ke AS atau Australia. KNKT memperkirakan dibutuhkan waktu 1 tahun untuk memastikan penyebab tragedi ini.
(jon/)











































