DetikNews
Senin 31 Desember 2018, 14:08 WIB

Wakil Ketua MPR: Mengenang Taufiq Kiemas, Lelaki Penentang Badai

Nabila Nufianty Putri - detikNews
Wakil Ketua MPR: Mengenang Taufiq Kiemas, Lelaki Penentang Badai Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah/Foto: Ari Saputra
Jakarta - Tepat hari ini, 31 Desember, pernah lahir seseorang yang namanya selalu dikenang dalam jajaran keanggotaan MPR RI. Taufiq Kiemas, ditengah masa kepemimpinannya menjadi Ketua MPR tahun 2009 lalu, ia harus berpulang pada tanggal 8 Juni 2013 saat karir politiknya berada di puncak.

Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah, mengenang lelaki yang ia juluki sebagai 'lelaki penentang badai' dalam kilas balik perjalanan Taufiq Kiemas. Ia menceritakan dari awal lahirnya 1942, Taufiq hingga terpilih menjadi ketua MPR pada masanya.

"Hari ini, 31 Desember, di penghujung tahun 1942, di sebuah rumah sederhana di Gang Abu (sekarang masuk kawasan sekitar Harmoni Jakarta) lahir anak pertama pasangan Tjik Agus Kiemas dan Hamzatun Rusjda. Sang putra itu diberi nama Taufiq Kiemas," ungkap Ahmad Basarah dalam keterangan tertulis, Senin (31/12/2018).


Dimasa awal pendudukan Jepang itu, lanjut Ahmad Basarah, keadaan serba susah. Tjik Agus Kiemas yang saat itu bekerja di Persatuan Warung Kebangsaan Indonesia (Perwabi) yang merupakan organisasi yang berafiliasi dengan Partai Masjumi, harus bekerja membanting tulang demi menghidupi keluarganya. Sedangkan Hamzatun, yang pernah mengenyam pendidikan bidan, fokus mengurus kebutuhan Taufiq dan adik-adiknya yang lahir kemudian.

Tak lama setelah proklamasi kemerdekaan, Tjik Agus Kiemas yang kala itu sudah perwira TNI dengan lulusan pendidikan perwira PETA di Bogor, memboyong keluarganya di Yogyakarta. Mereka mengikuti para pejabat pemerintah yang memutuskan memindahkan ibu kota Republik Indonesia ke Yogyakarta.

"Baru setelah penyerahan kedaulatan, Taufiq dan keluarganya kembali ke Jakarta. Ketika ayahnya ditugaskan sebagai pejabat di Djawatan Perdagangan di Makassar, Taufiq tidak ikut serta. Oleh ayahnya, yang simpatisan militan Masjumi, ia justru dimasukkan ke SMP Katolik Mardiyuana di Sukabumi," lanjut Ahmad Basarah.

Basarah pun melanjutkan ceritanya, setamat SMP, barulah Taufiq bergabung kembali dengan keluarganya yang sudah bermukim di Palembang, kampung halaman ayahnya.

"Saat remaja di Palembang, Taufiq tumbuh menjadi seorang Soekarnois yang militan. Militansi itu berawal dari kekaguman saat ia mendengar pidato Bung Karno di radio. Seakan ada dorongan kuat dalam dirinya untuk mengetahui lebih jauh sosok dan pemikiran Bung Karno," tambah Ahmad Basarah.

Berbagai hal pun dilakukan Taufiq untuk memuaskan rasa ingin tahunya tersebut. Dilihat dari meminjam buku-buku karya Bung Karno atau yang membicarakan pemikiran sang proklamator. Bahkan, Taufiq terus berupaya agar selalu bisa menyimak pidato Bung Karno di radio.

Ia memaparkan bahwa Taufiq yang mulanya hanya seorang remaja yang memiliki hobby hura-hura dengan geng Don Quixote. Namun, perlahan tapi pasti, Taufiq bertransformasi menjadi seorang aktivitis mahasiswa.

"Tak lama setelah ia masuk Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya, Taufiq memutuskan bergabung dengan GMNI. Meski untuk itu, ia harus bertengkar hebat dengan ayahnya, yang ingin anak sulungnya itu berkecimpung di organisasi mahasiswa Islam," terang Basarah lagi.

Basarah mengungkapkan, karena militansi dan kepandaian yang dimiliki Taufiq dalam bergaul, tak memerlukan waktu lama Taufiq dipercaya menjadi Ketua GMNI Palembang. Pergaulan politiknya pun tidak lagi sebatas anak-anak GMNI, juga dengan tokoh-tokoh politik di Palembang. Bahkan dengan sejumlah tokoh muda nasional, seperti Guntur Soekarnoputra.

"Peristiwa Gestok 1965, membalikkan suasana. Kekuasaan Bung Karno surut. Para Soekarnois sejati, termasuk Taufiq, harus mendekam di penjara rezim Orde Baru. Dua kali ia dipenjara, di Markas CPM Palembang dan RTM Budi Utomo Jakarta," tegas Basarah.

Basarah mengaku jika penjara tidak membuat Taufiq patah semangat, justru memberikan pelajaran berharga baginya. Pelajaran dari penjara itu terus diingat oleh Taufiq. Bukan sekadar menjadi pengetahuan penghias kepala belaka, tapi juga dipraktikkan dalam kehidupan kesehariannya.

"Seiring perjalanan politiknya, romansa asmaranya dengan Megawati Soekarnoputri pun tumbuh. Saat mendekam di penjara di Palembang, angan-angan atau firasat Taufiq untuk menyunting Megawati Soekarnoputri sudah bersemi," jelas Basarah lagi.

Firasat itu rupanya membekas di garis tangan. Di awal tahun 1971, setelah Megawati menjanda karena suaminya, Letnan Penerbang Surindro Suprijarso, wafat akibat kecelakaan pesawat di sekitar Pulau Biak, Megawati pun diperkenalkan dengan Taufiq oleh Guntur Soekarnoputra. Perkenalan itu berlanjut menjadi jalinan asmara, hingga akhirnya pasangan ini menikah Maret 1973.

"Sambil mengarungi biduk rumah tangga-- pasangan ini memiliki tiga anak, Muhammad Rizki Pratama, Muhammad Prananda Prabowo, dan Puan Maharani. Taufiq dan Megawati kemudian terjun ke dunia politik. Mereka berkiprah di Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Di masa-masa kritis, terutama setelah KLB PDI di Surabaya akhir tahun 1993 dimana Megawati terpilih sebagai Ketua Umum PDI, Taufiq terus mendampingi sang istri. Ia lebih banyak bergerak di belakang layar," beber Wakil Ketua MRP RI ini.


Bahkan, Basarah mengapresiasi Taufiq pada masa reformasi merupakan motor utama pendirian PDI Perjuangan. Taufiq pula yang berperan besar mengantarkan Megawati Soekarnoputri menjadi Wakil Presiden RI, dan kemudian Presiden RI.

"Kini Taufiq Kiemas, lelaki yang menentang badai itu, sudah lima tahun lebih wafat. Sudah menjadi tugas kita merawat kenangan, serta meneruskan warisan keteladanannya dalam berpolitik yang beradab," tutup cerita dari Basarah.

Basarah juga mengucapkan dirgahayu bagi Taufiq Kiemas pada hari ini, 31 Desember. Selama perjalanan hidupnya di tahun 1942 hingga 2013, tak lupa ia juga menyelipkan doa dan surat al-Fatihah untuknya.


Simak Juga 'Kenang Almarhum Taufiq Kiemas, Kapolri Sering Diberi Uang':

[Gambas:Video 20detik]



(ega/mul)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed