DetikNews
Minggu 30 Desember 2018, 12:35 WIB

Korban Tsunami Banten Berpencar, Buat Bantuan Sulit Tepat Sasaran

Mustiana Lestari - detikNews
Korban Tsunami Banten Berpencar, Buat Bantuan Sulit Tepat Sasaran Foto: Mustiana Lestari
Jakarta - Pasca-tsunami yang menerjang Selat Sunda di sebagian Provinsi Banten dan Lampung, sejumlah relawan telah datang berbondong-bondong wilayah tersebut.

Namun penanganan korban tsunami bukan tanpa kendala. Sebabnya perbedaan karakteristik pola pengungsian di Banten yang berbeda dari polanya dari pengungsian bencana tsunami di Lombok dan Palu.

"Pengungsi di Selat Sunda ini berbeda dengan Palu dan Lombok. Kalau di sana mereka benar-benar mengungsi pakai tenda, pakai posko. Kalau di sini nggak, tapi mereka mengungsi di desa dan kampung sehingga mereka tinggal di tempat warga lainnya," kata Ryan dari Yayasan Baitum Maal (YBM) PLN kepada detik.com, di Desa Cigeulis, Pandenglang, Banten, Minggu (30/12/2018).



Oleh karena itu, saat detik.com menyambangi dapur umum dan posko tak ada gerombolan pengungsi. Malah hanya ada satu dua orang koordinator yang berada di tempat tersebut.

Kendati demikian, Ryan mengatakan dengan karakteristik seperti ini seharusnya memang tidak menjadi kendala karena mungkin mereka bisa saling berbagi dengan warga lainnya.

Sementara itu, karakteristik pengungsi seperti, menurut relawan lainnya, Bambang Rianto yang bertugas di Posko Distribusi Logistik PLTU Labuan mengatakan pola seperti ini menjadi kendala karena khawatir salah sasaran.

"Kendalanya itu ketika kita ke kampung ada yang hanya pengungsi hanya takut dan yang kena tsunami nggak bisa kita pisahkan. Makanya kita data ini pengungsi apa yang ikut-ikut jadi pengungsi. Makanya medis nanya ini karena takut apa yang kena tsunami," jelas dia.



Oleh karena itu, menurut Bambang penting untuk memberikan bantuan sesuai dengan kebutuhan. Untuk mengetahui kebutuhan korban/pengungsi, posko menerjunkan tim yang melakukan survei secara langsung untuk mendata kebutuhan yang harus dikirimkan.

"Pokoknya begitu ada laporan survei di lapangan 'pak di sini ada kebutuhan ini, pengobatan' nanti kami siapkan. Jadi kami tinggal tunggu (data) dari tim survei kami. Nggak mungkin kami kasih (bantuan tertentu) ke sana, eh taunya gak butuh di sana," tambahnya.

Kendala seperti ini juga membuat warga desa kerepotan karena tidak ada koordinasi yang jelas. Bahkan, Nunung Arifin, warga di Desa Kelapa Koneng, Kelurahan Banyuasih, Kecamatan Cigeulis baru mendapat bantuan setelah 2 hari karena tak ada yang mengkoordinir, termasuk kepala desa, lurah sampai camat.

Sambil menangis, akibat hal ini Nunung merasa warga di desanya tidak diperhatikan padahal ada 35 rumah yang diterpa tsunami hingga semua warganya berpencar ke desa-desa lainnya.

"Di sini orang-orang desa nggak ada yang menanggapi 2 hari 2 malam sudah. Saya sampai bertengkar dengan warga, saya taruhkan tenaga saya sampe nggak tidur untuk desa saya. Saya menangis, saya sampai kayak gini biar warga kampung jangan kelaparan. Alhamdulillah saya ajuin dapur umum saya salurkan jangan sampai kelaparan,"

"Enggak ada yang peduli kampung saya, Enggak ada. Terutama kepala desa dan kecamatan enggak ada yang cek rumah yang hancur cek lokasi pengungsian. Tolong dipercepat kami nggak punya rumah," cerita dia sambil menangis.

Di dalam dapur umum yang dibangun seadanya dalam bilik kecil, dia mengatakan bahwa sampai saat ini warga masih ketakutan saat malam tiba.

"kalau malam pada berangkat ke pengungsian takut ada tsunami susulan. Mereka ikut numpang di warga lain, Alhamdulillah mereka nampung pengungsi Kelapa Koneng," ucapnya lagi.

Kendati demikian, dia bersyukur pihak YBM PLN telah turun tangan memberikan bantuan dan membantu dapur umum serta menyalakan listrik.

"Alhamdulillah udah ada lampu jadi bisa lihat kemana-kemana (kalau ada gelombang). Ini dapat juga kasur baru dari PLN kalau dari yang lain belum ada. Alhamdulilah lebih banyak dari PLN. Semuanya Alhamdulillah bantuan udah diterima dan disalurkan," tutupnya berterima kasih.


Simak Juga 'BNPB Ralat Jumlah Korban Tsunami Selat Sunda: 426 Orang Tewas':

[Gambas:Video 20detik]



(mul/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed