Tatu meminta masyarakat memiliki rasa empati terhadap korban bencana dan mengisi tahun baru dengan kegiatan positif.
"Pergantian tahun baru 2019 diisi kegiatan yang positif, seperti beribadah, berdoa, dan berzikir, serta introspeksi diri," ungkap Tatu dalam keterangan tertulis, Minggu (30/12/2018)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan, untuk menegaskan imbauannya tersebut, Tatu mengedarkan surat kepada pimpinan lembaga pemerintah, para camat, kepala desa, kepala sekolah, serta ketua RW dan ketua RT di Kabupaten Serang.
Dalam surat edaran tersebut, ada lima poin yang Tatu amanatkan. Pertama, sebagai bentuk empati terhadap korban bencana tsunami Selat Sunda agar tidak melakukan kegiatan berlebihan (hura-hura), tidak bermanfaat, serta perbuatan yang melanggar norma hukum dan agama.
Kedua, ia mengimbau masyarakat agar mengisi malam pergantian tahun dengan kegiatan yang positif, meningkatkan ibadah dan rasa syukur, serta menjaga toleransi hidup beragama dan bermasyarakat.
Ketiga, menjadikan tahun baru 2019 sebagai momentum muhasabah (evaluasi diri) dalam upaya meningkatkan keimanan kepada Allah SWT. Keempat, para orang tua diminta mengawasi dan mengarahkan putra-putrinya agar tidak melakukan dan mengikuti kegiatan yang bersifat hura-hura pada malam pergantian tahun.
Kelima, berkenaan dengan cuaca yang tidak menentu, ia mengimbau masyarakat agar menghindari tempat-tempat yang rawan bencana alam, seperti gunung dan pantai.
Tatu juga meminta para camat mengajak masyarakatnya agar memenuhi masjid untuk melakukan ibadah bersama di malam tahun baru.
"Mengisi malam pergantian tahun dengan salat berjemaah, pengajian, berzikir, dan ibadah lainnya," sambungnya.
Selain itu, sebagai bentuk empati dan ungkapan duka cita untuk para korban bencana di Selat Sunda, Tatu mengimbau masyarakat agar menyisihkan sebagian rezekinya untuk berderma atau bersedekah. (mul/ega)










































