90% Kecelakaan Pesawat karena Human Error

90% Kecelakaan Pesawat karena Human Error

- detikNews
Selasa, 06 Sep 2005 17:31 WIB
Bandung - Departemen Penerbangan ITB mengalisis insiden Mandala Airlines di Medan terjadi karena berbagai faktor.Pertama, karena kehilangan power pada mesin pesawat. Kedua, pada permasalahan sirip belakang atau flap yang tidak mengembang dengan baik pada saat pesawat terbang. Ketiga, human errror. "Keputusan pilot penting untuk memutuskan apakah pesawat tersebut layak terbang atau tidak. Semua unsur penerbangan ada standar khusus yang sangat ketat. Begitu teorinya," ungkap Kepala Departemen Penerbangan ITB, Dr.Ir. Bambang K. Hadi, saat dijumpai di ruang kerjanya di ITB, Jalan Ganesha, Bandung, Selasa (6/9/2005).Menurutnya, dari catatan kecelakaan pesawat terbang di dunia, faktor manusia ini menduduki angka statistik tertinggi kegagalan sebuah pesawat terbang. Angka statistik tersebut mencapai 75-90 persen dalam mempengaruhi kecelakaan sebuah pesawat terbang."Pilot punya keputusan paling akhir jika dirasakan ada trouble dalam pesawatnya. Ketika pesawat melaju di landasan ada batasan kecepatan tertentu yang mesti dicapai. Jika ada ditemukan kasus salah satu mesin mati, maka pilot harus mengerem pesawatnya. Jika saat terbang dan ada masalah, sebaiknya pesawat kembali pada landasan dan membatalkan penerbangannya. Ini yang mesti kita lihat dalam kasus Mandala tersebut," ungkap Bambang.Selain itu untuk membantu mencari tahu sebab kejatuhan pesawat tersebut bisa dilakukan dengan menganalisis data yang terekam dalam kotak hitam pesawat. Termasuk memeriksa catatan teknis sebelum pesawat itu diperbolehkan laik untuk terbang. Catatan tersebut menurutnya memiliki sejumlah syarat yang merekomendasikan apakah pesawat Mandala tersebut laik terbang atau tidak."Perhitungan safety-nya sudah dikalkulasikan. Harus no margin for error. Ada pengawasannya. Tapi biasanya saat aplikasi banyak masalah," ungkap Bambang.Bambang memperkirakan di Indonesia hanya ada 2 hingga 3 maskapai yang cukup baik dalam menjaga masalah safety sebuah pesawat. Maskapai lainnya dia tidak tahu. "Mandala termasuk kategori baik. Catatan ini penting untuk dilihat," jelas Bambang.Bambang menegaskan, Direktorat Sertifikasi Kelaikan Udara (DSKU), Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud), Departemen Perhubungan sekarang harus menjelaskan pada publik untuk setiap kasus kecelakaan setiap pesawat terbang komersil."Selama ini belum ada penjelasan. Ini penting bagi publik untuk memilih dan memutuskan sebuah maskapai pesawat terbang yang dipilihnya. Saat ini sebaiknya publik jangan melihat pada tarif pesawat terbang yang murah. Fokusnya pada layanan keamanan pesawat terbangnya," demikian Bambang. (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads