Kopilot Pesawat Mandala, Daufir, di Mata Teman SMA
Selasa, 06 Sep 2005 16:54 WIB
Jakarta - Lewat detikcom, Fahmi Azmiar mengetahui pertama kali tragedi yang menimpa Mandala Airlines di Medan. Dia pun terkejut dengan nama Daufir Effendi, sang kopilot pesawat itu. Dia baru sadar, bahwa Daufir yang termasuk korban tewas itu adalah teman akrabnya semasa SMA. Dalam emailnya kepada detikcom, Selasa (6/9/2005), Fahmi yang kini bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi di Jakarta, mengaku sudah tidak bertemu Daufir selama 13 tahun. Saat mengetahui ada berita Mandala mengalami kecelakaan di Medan, awalnya Fahmi menanggapinya biasa saja, sama seperti kecelakaan-kecelakaan pesawat lainnya. Pasti menyedihkan. Namun, kecelakaan Mandala di Medan ini membuat hatinya semakin terenyuh saat mendengar nama Daufir Effendi. "Pertama kali membaca kabar ini di detikcom, di situ disebutkan kopilot adalah Kapten (Pnb) Daufir Effendi. Saya langsung teringat dengan seorang teman SMA saya di SMA 1 Pamekasan (sekarang SMUN 1)," tulis Fahmi. Fahmi yakin Daufir yang menjadi kopilot Mandala Airlines itu adalah temannya. Sebab, jarang orang punya nama yang sama dengan dia. "Jangan-jangan itu Daufir teman saya," begitu Fahmi berkata di dalam hati. "Setelah detikcom melansir daftar manifest awak pesawat, yang salah satunya disebut bahwa kopilot lahir di Pamekasan, yakinlah saya kalau itu adalah Daufir, teman SMA yang sudah 13 tahun saya tidak bertemu," kata dia. Di mata Fahmi, Daufir merupakan pribadi yang menyenangkan dan sangat baik. Orangnya pandai dan gampang akrab. "Kami satu kelas di kelas Fisika. Tipenya tidak banyak bicara meskipun bukan pendiam. Yang menonjol dari almarhum dia termasuk siswa yang rajin di kelas," ungkap Fahmi. Fahmi tidak tahu persis keluarganya. Tapi, kata dia, Daufir berasal dari daerah pinggiran kota Pamekasan dan dari keluarga sederhana. Sepeda adalah tunggangannya ke sekolah seperti kebanyakan teman-teman SMA lainnya.Setelah lulus, Daufir dan dirinya, serta teman-teman lain sibuk mencari perguruan tinggi. Beberapa waktu kemudian terdengar kabar bahwa Daufir diterima di Akabri TNI AU. Kabar ini segera menjadi buah bibir di antara teman-teman. "Seingat saya hanya Daufir-lah satu-satunya lulusan tahun 1992 yang berhasil masuk AKABRI TNI AU. Saya sendiri melanjutkan kuliah di ITS Surabaya," kata dia. Setelah lulus SMA, pernah sekali teman sekelas SMA mengadakan reuni saat lebaran, sekitar tahun 1994. Daufir saat itu datang dengan pakaian dinas harian Akabri. Dia tampak paling gagah. Dan saat itulah, rupanya pertemuan terakhir Fahmi dengan Daufir. "Saya sangat berduka. Meskipun lama tidak berjumpa, kenangan bersama almarhum selalu kami ingat karena sifatnya yang sangat baik. Keluarga besar SMU 1 Pamekasan juga berduka kehilangan salah satu alumnus terbaiknya yang meninggal saat menjalankan tugas. Semoga almarhum Daufir meninggal dalam khusnul khotimah dan segala amal ibadahnya diterima Allah SWT," pinta Fahmi.
(asy/)











































