Setahun Tewasnya Munir, Suciwati Bacakan Surat di Depan Hakim

Setahun Tewasnya Munir, Suciwati Bacakan Surat di Depan Hakim

- detikNews
Selasa, 06 Sep 2005 14:39 WIB
Jakarta - Istri mendiang Munir, Suciwati, tidak berhenti mencari keadilan. Genap setahun setelah meninggalnya Munir, ia menyampaikan unek-unek kepada majelis hakim lewat surat yang dibacakannya saat menjadi saksi dalam sidang kasus Munir.Suciwati terlihat tegar saat membacakan dua lembar suratnya di PN Jakarta Pusat, Jalan Gajah Mada, Selasa (6/9/2005). Tidak ada setetes pun air mata. Bahkan Ketua Majelis Hakim Cicut Sutiarso tidak mampu menyembunyikan kekagumannya atas ketegaran Suciwati. Berikut penggalan surat Suciwati yang ditujukan kepada majelis hakim PN Jakpus.Melalui sepucuk surat ini saya ingin menyampaikan perihal kematian suami saya, Munir, seorang aktivis HAM yang amat saya kagumi dan amat saya sayangi yang telah tewas dibunuh dalam penerbangan pesawat Garuda Indonesia menuju Amsterdam pada 7 September tahun lalu. Pembunuhan ini terjadi setelah kematian Munir diketahui karena kandungan racun arsen dalam dosis tinggi dan mematikan dalam tubuhnya.Saya yakin dan percaya, Munir dibunuh karena aktivitas selama hidupnya, membela mereka yang terpinggirkan, dan menentang penyalahgunaan kekuasaan negara.Bagi saya pembunuhan Munir dapat dan seharusnya dilihat sebagai sebuah bentuk pembunuhan politik (political assasination). Hari ini persis satu tahun sudah Munir tidak berada di sisi saya dan anak-anak kami. Setahun kasus ini berjalan, saya hanya melihat satu orang yang didakwa membunuh Munir. Saya sendiri meyakininya hanya sebagai pelaku lapangan.Sementara aktor intelektualnya masih bersembunyi dan masih jauh terjangkau. Kenyataan ini terus melahirkan kegundahan di hati saya akan hadirnya keadilan untuk suami saya, Munir. Ada keraguan dalam benak kami akan hadirnya keadilan. Dari ruang pengadilan inilah, Munir, suami saya pernah kecewa. Sebab di ruang sidang inilah sayap harapan korban pelanggaran HAM yang dibelanya pernah dipatahkan.Hari ini sayap harapan yang patah itu masih mencari keadilan. Bukan lagi semata untuk mereka, tapi untuk Munir. Hari ini sungguh saya ingin sekali menyaksikan kebenaran diungkap dan keadilan ditegakkan. Namun rasanya keinginan itu harus dipendam untuk sementara, sebab ternyata pihak kepolisian pun tampaknya belum mau menjelaskan kemajuan berarti seputar apa saja yang telah dicapainya.Untuk itu dari ruang persidangan ini, saya ingin sekali ada kejelasan tentang peran dan tanggung jawab para pejabat atau Direktur Garuda yang tanpa mereka mustahil Pollycarpus dapat berada dalam persidangan ini.Begitu pula tentang adanya hubungan kasus kematian suami saya dengan Badan Intelijen Negara (BIN). Adalah fakta yang tidak bisa dibantah lagi bahwa terdakwa saudara Pollycarpus selama ini berhubungan dengan BIN. Saya ingin agar fakta-fakta ini dihadirkan dalam ruang persidangan untuk kemudian digali secara mendalam oleh majelis hakim yang mulia.Melalui surat ini sekali lagi saya meletakkan harapan ini di meja majelis hakim karena saya telah berjanji memperjuangkan harapan itu, dan saya tidak akan berhenti sampai kasus ini terungkap dan mampu menjawab pertanyaan keadilan saya dan anak-anak kami, Aliv-Diva, yang juga berharap di masanya nanti kebiadaban ini tidak terulang.Bagi saya hitam putihnya kasus ini ke depan memiliki arti penting. Bahkan akan sangat menentukan bagimana depan demokrasi dan HAM di Indonesia. (umi/)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini