detikNews
Kamis 27 Desember 2018, 12:31 WIB

Kaleidoskop 2018

Mengejutkannya Merek Pierre Cardin Jadi Milik Orang Jakarta

Andi Saputra - detikNews
Mengejutkannya Merek Pierre Cardin Jadi Milik Orang Jakarta Foto: pierre cardin.com
Jakarta - Sepanjang 2018, sengketa merek masih mewarnai dunia peradilan Indonesia. Salah satunya sengketa merek Pierre Cardin yang divonis Mahkamah Agung (MA) menjadi milik orang Jakarta.

Kasus bermula saat Pierre Cardin melayangkan gugatan dari 59 reu du Faubourg Saint-Honore, Paris Prancis ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat (PN Jakpus). Ia menunjuk pengacara Ludiyanto untuk menggugat pengusaha lokal, Alexander Satryo Wibowo yang memproduksi barang dengan merek yang sama.


Ludiyanto mendalilkan bahwa kliennya merupakan desainer yang dikenal dunia.

Pierre Cardin dari Prancis kaget menemukan merek serupa di Indonesia untuk kelas yang sama yang diproduksi Alexander Satryo Wibowo. Tidak terima, Pierre Cardin Prancis menggugat Alexander Satryo Wibowo yang beralamat di Kayu Putih, Jakarta Timur.

Tapi apa daya, Pengadilan Niaga Jakarta Pusat menolak gugatan tersebut pada 9 Juni 2015. Pierre Cardin asal Prancis tak terima dan mengajukan kasasi. Tapi kasasi itu ditolak MA.

Merasa lebih berhak, Pierre Cardin mengajukan upaya hukum luar biasa dengan mengajukan PK. Tapi apa kata MA?

"Menolak permohonan PK Pierre Cardin," putus MA pada September 2018.

Duduk sebagai ketua majelis Soltoni Mohdally dengan anggota Sudrajad Dimyati dan Panji Widagdo. Ketiganya menolak PK dengan alasan kasus itu pernah digugat pada tahun 1981 dan ditolak.

"Menurut hukum, penggugat tida diperbolehkan lagi untuk mengajukan gugatan ini," ujar majelis.

Dari keenam hakim agung yang menangani kasus ini (3 di tingkat kasasi dan 3 di tingkat PK), hakim agung Nurul Elmiyah tidak setuju Pierre Cardin milik orang Jakarta. Ia beralasan merek Pierre Cardin sudah terkenal di berbagai negara dan merujuk nama desainer Prancis.

"Merek dagang suatu produk tidak hanya bermakna sekadar nama atau tulisan, akan tetapi lebih jauh juga mengandung arti dan maksud yang dapat berhubungan langsung dengan produk yang bersangkutan. Di samping itu merek yang tertulis pada suatu produk juga dapat merupakan ciri pembeda dari daerah mana (dalam negeri) atau dari negara mana (luar negeri) asal-usul produk tersebut," kata Nurul.

Dalam perkawa a quo, nama Pierre Cardin yang merupakan nama asli Penggugat, sedangkan nama atau tulisan produk yang digunakan Terguguat (Alex) juga 'Pierre Cardin' yang terbukti sama pada pokoknya.

"Dan terbukti pula kedua nama atau tulisan tersebut bukan merupakan bahasa atau tulisan dalam bahasa Indonesia, akan tetapi merupakan bahasa atau tulisan dalam bahasa asing yang merupakan bahasa negara asal Penggugat," ujar hakim agung yang juga dosen UI itu.

Namun, suara Nurul kalah dengan hakim agung lainnya. Pierre Cardin pun jadi merek milik orang Jakarta.
(asp/rvk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com