Edvard Munch (Foto: Edvard Munc.com) |
Demikian lukisan ekspresionis karya seniman Norwegia, Edvard Munch, yang dibuat pada 1893. Lukisan itu diberi judul 'Der Schrei der Natur' (Jeritan Alam) atau lebih populer disebut 'Scream' (Jeritan). Lukisan ini dinilai sebagai karya seni paling populer kedua, setelah 'Mona Lisa' karya Leonardo da Vinci. Pada Maret 2012, 'Scream' terjual di balai lelang Sothebuy's, New York, seharga US$ 120 juta.
"Saya sedang berjalan di sebuah jalan kecil dengan dua orang teman--matahari sedang tenggelam, mendadak langit berubah menjadi merah darah. Saya berhenti, merasa lelah, dan bersandar di pagar--di atas fjord dan kota yang biru kehitaman tampak darah dan lidah-lidah api--teman-teman berjalan terus dan saya berdiri di sana gemetar dan diliputi rasa cemas--dan saya merasakan jeritan yang tidak henti-hentinya melintas di alam," demikian Munch menggambarkan lukisannya itu dalam sebuah catatan di buku hariannya seperti dikutip Richard Panek di The New York Times, 8 Februari 2004.
Tapi yang menjadi pertanyaan banyak orang atas lukisan tersebut adalah soal warna. Ya, kenapa warna cakrawala sedemikian merah seperti darah?
Donald Olson, guru besar ilmu fisika dan astronomi dari Texas State University, meyakini pemilihan warna itu bukan semata dari imajinasi Munch. Ia lebih percaya warna itu terkait dengan pengalaman sang pelukis terhadap fenomena yang terjadi di Eropa selang beberapa waktu setelah terjadi letusan Krakatau pada Agustus 1883.
Dia bersama istrinya, Marilynn Olson, dan koleganya, ahli fisika Russell Doescher, melakukan sejumlah kajian untuk sampai pada kesimpulan tersebut. Ketiganya melakukan napak tilas dan rekonstruksi ke Oslo.
Tak cuma di Eropa, letusan Krakatau mempengaruhi fenomena alam di kawasan New York. Senja di kota itu selama beberapa waktu menjadi lebih kemerahan. Harian The New York Times (TNYT) pada 28 November 1883 melaporkan sekitar pukul 5 sore, langit tiba-tiba memerah di ufuk barat. Fenomena tersebut membuat banyak orang di jalanan terkaget-kaget dan berkerumun di sana-sini.
"Mereka memandang dengan takjub, sekaligus heran, ke arah matahari terbenam tentang apa sebenarnya yang sedang terjadi. Tak sedikit yang mengira warna cakrawala yang kemerahan itu akibat kebakaran besar yang sedang melanda," tulis TNYT. (jat/jat)












































Edvard Munch (Foto: Edvard Munc.com)