Kaleidoskop 2018

Tragedi Karamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba

Danu Damarjati - detikNews
Rabu, 26 Des 2018 14:40 WIB
Tabur bunga untuk para korban tenggelamnya KM Sinar Bangun. Foto: Dok.Kemenhub
Jakarta - Kapal Motor (KM) Sinar Bangun tenggelam di Danau Toba, Sumatera Utara, mengalami kecelakaan pada 12 Juni 2018 lampau. Peristiwa itu menjadi tragedi transportasi yang tak boleh terulang lagi.

Senin (12/6/2018), masih dalam suasana libur lebaran, sekitar pukul 16.00 WIB sore, KM Sinar Bangun yang berangkat dari Pelabuhan Simanindo di Pulau Samosir ke Tigaras diketahui mengalami kecelakaan.



21 Orang berhasil dievakuasi, 3 orang di antaranya tewas. Sebanyak 164 orang dinyatakan hilang.

Evakuasi sulit

Kapal karam di kedalaman 450 meter. Pencarian dan evakuasi korban sulit dilakukan. Selain angin kencang dan ombak yang sempat menghalangi pencarian, kondisi di dalam air juga tidak mudah ditangani, ada pula ganggang yang menghalangi. "Di dalam sudah diselami sampai kedalaman 50 meter, tidak ditemukan apa-apa karena cukup gelap, keruh, dan airnya dingin sekali," kata Kabasarnas M Syaugi di Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Jakarta, Rabu (20/6/2018).

Jarak pandang sangat terbatas gara-gara keruhnya air, sekitar 5 meter saja. Dua alat remotely operated underwater vehicle (ROV) portable dikerahkan untuk menyelami dasar danau.

22 Juni, Nakhoda KM Sinar Bangun bernama SS ditetapkan sebagai tersangka. Tiga hari kemudian dipastikan bahwa tiga orang pegawai Dinas Perhubungan Sumatera Utara juga ditetapkan sebagai tersangka dan dikenakan Pasal 302 dan 303 UU No 17 tahun 2008 tentang Pelayaran jo Pasal 359. Ketiga oknum tersebut masing- masing Kepala Bidang Angkutan Sungai dan Danau Rihard Sitanggang, Kapos Pelabuhan Simanindo Golpa F. Putra dan pegawai honorer Dishub Samosir Karnilan Sitanggang.



Kabid Humas Polda Sumut, AKBP Tatan Dirsan Atmaja menyatakan kapal itu melaju tanpa manifes. Data penumpang sulit dipastikan. Namun ratusan orang mencari keluarganya, berharap selamat dari kapal nahas itu. Kapal itu dinyatakan Idrus Marham (saat itu sebagai Menteri Sosial) kelebihan muatan. Kapal yang harusnya berkapasitas 40 orang saja, ternyata diisi hingga 200 orang. Korban meninggal dunia mendapat santunan dari Mensos masing-masing RP 15 juta.

"Kita melihat kasus ini terjadi bukan hanya karena masalah kesalahan murni daripada nakhoda sebagai pengemudi dan pemilik kapal," kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian dalam jumpa pers di Gedung Pusdalsis Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (25/6/2018).

Tito melihat tragedi ini juga akibat sistem dan manajemen transportasi, juga regulasi yang tidak dipenuhi. Kapal kelebihan muatan, tak ada manifes penumpang.

Pencarian sempat diperluas. Namun karena sulitnya pencarian dan pertimbangan kondisi jasad korban di dasar Danau Toba, maka Operasi SAR Nasional dihentikan pada 3 Juli 2018.

Seputar Ribut Ratna Sarumpaet vs Luhut

Tak terima dengan penghentian pencarian itu, aktivis Ratna Sarumpaet adu mulut dengan Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan di Posko Tim Pencarian KM Sinar Bangun, Pelabuhan Tigaras, Kabupaten Simalungun, Senin (2/7/2018) sekitar pukul 09.00 WIB.

"Mau minta sama Pak Luhut ya. Ini (pencarian korban KM Sinar Bangun) nggak boleh dihentikan," kata Ratna.

Luhut juga bereaksi keras, "Kamu bukan prioritas saya pertama. Prioritas saya rakyat ini. Kamu macam-macam... Kau boleh ngomong sama orang lain macam-macam. Jangan sama saya! Ngerti kau!" ujar Luhut. Protes Ratna juga disanggah oleh seorang perempuan dari unsur masyarakat.

Pihak Istana Kepresidenan membela Luhut. Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin menilai Ratna telah memprovokasi keluarga korban KM Sinar Bangun.

"Menurut saya, tidak boleh ada yang main di air keruh. Tidak boleh, siapa pun itu," tutur Ngabalin kepada detikcom, Selasa (3/7/2018). Ratna membalas kembali dengan pernyataan, "Kasih tahu sama Ngabalin, jangan asal ngomong saja dia. Dasar penjilat."

Kepala SAR Medan santai menanggapi aksi Ratna. "Itu kami nggak peduli. Suruh saja Bu Ratna nyelam, ha-ha-ha...," ujar Kepala SAR Medan sekaligus Koordinator Tim Pencarian KM Sinar Bangun, Budiawan, kepada detikcom, Selasa (3/7/2018). Ratna bereaksi balik, "Ini negara demokrasi, jangan ngomong suruh nyelem, nyelem kan nggak ada gunanya kecuali dia ada cara lain yang mungkin dia minta anjuran apa, jangan kasar gitu lah, kampungan!"


Saksikan juga video 'Antisipasi Kecelakaan di Danau Toba, Menhub Bentuk Tim Pengawas':

[Gambas:Video 20detik]

(dnu/bag)