Pasca-Katrina, Negara-negara Asia Tawarkan Bantuan ke AS
Senin, 05 Sep 2005 16:50 WIB
Jakarta - Bencana Katrina di beberapa negara bagian Amerika Serikat mengundang kepedulian negara-negara di dunia, termasuk Asia. Negara-negara Asia, termasuk Indonesia, beramai-ramai menawarkan bantuan kepada pemerintah AS untuk mengatasi kehancuran besar akibat topan Katrina di wilayah Gulf Coast.Pemerintah Indonesia, yang masih berupaya memulihkan keadaan pasca bencana tsunami dahsyat pada 26 Desember lalu, menawarkan 40 dokter untuk dikirim ke AS. Begitu pula dengan India yang mengirimkan tim medis dari Korps Medis Angkatan Darat India ke daerah bencana. Negeri itu juga menawarkan sistem penjernihan air berskala besar untuk digunakan di daerah-daerah yang mengalami kesulitan air bersih pasca-Katrina.Adapun pemerintah Korea Selatan (Korsel) akan menyumbangkan sekitar US$ 30 juta dalam bentuk uang tunai sebagai bagian dari rencana bantuan kemanusiaan negeri Ginseng itu. Sri Lanka yang juga baru dilanda tsunami 26 Desember, telah mendonasikan US$ 25 ribu. Demikian pula pemerintah Cina yang akan memberikan bantuan uang senilai US$ 5 juta. Sementara Jepang menyatakan telah menawarkan pengiriman tim penyelamat emergensi. Filipina juga telah mengumumkan rencananya untuk mendatangkan tim beranggotakan 25 orang yang terdiri dari para dokter dan perawat, yang dijadwalkan berangkat ke AS pekan ini.Begitu pula Thailand yang akan mengerahkan tim medis beranggotakan 100 dokter dan perawat untuk membantu para korban yang selamat dari badai maut Katrina. Ditegaskan Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra, para personel medis itu siap diberangkatkan pada Selasa (6/9/2005) besok. Namun keberangkatan mereka tergantung pada kesiapan AS menyambut mereka."Kami sedang mengkoordinasikan dimana tim medis Thai itu akan ditempatkan," ujar haksin pada wartawan lokal.Sejauh ini belum diketahui berapa jumlah korban tewas akibat amukan Katrina, khususnya di New Orleans, salah satu kota yang paling parah diterjang topan dahsyat itu. Namun pejabat-pejabat AS memperkirakan, jumlah korban bisa mencapai 10 ribu orang, bahkan mungkin lebih.
(ita/)











































