'Kualitas Pilkada 2005 Rendah'
Senin, 05 Sep 2005 14:27 WIB
Jakarta - Penyelenggaraan pilkada 2005 dianggap rendah kualitasnya, mulai tahap persiapan hingga pelaksanaan. Hal ini terjadi akibat buruknya aturan main dan peraturan perundangan yang mengatur.Demikian disampaikan oleh anggota Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) Djohermansyah Djohan dalam seminar evaluasi pilkada di gedung LIPI, Jl Gatot Soebroto, Jakarta, Senin (5/9/2005).Dia menjelaskan dalam tahap persiapan, ada beberapa hal yang kurang baik yaitu kurang baiknya persiapan partai politik, kurang baiknya persiapan KPUD dan DPRD, kurang baiknya pemerintahan pusat dan adanya resistensi dari masyarakat terhadap aturan main pilkada.Sedangkan dalam tahap pelaksanaan, Djohermansyah Djohan menerangkan beberapa hal yang kacau yaitu tidak beresnya pendaftaran pemilih, tidak beresnya pendaftaran dan penetapan calon, buruknya teknik kampanye calon, kisruhnya pemungutan suara, tidak lancar dan berbelitnya proses penghitungan suara, rusuhnya penetapan pasangan calon, pengesahan dan pelantikan."Dengan melihat permasalahan di atas maka saya usulkan pemerintah pusat untuk segera mengevaluasi pelaksanaan pilkada dengan menyatukan UU Pilkada, pemilu dan pilpres sehingga ada UU pemilu baru dan aturan akan lebih baik," ujarnya.Sedangkan Direktur LSI Syaiful Mujani mencermati adanya perubahan perilaku politik masyarakat. Menurutnya faktor sosiologis seperti agama, etnis, sosial-ekonomi tidak berpengaruh kuat dalam pilkada."Unsur etnik kedaerahan tidak signifikan karena persaingan berlangsung antarputera daerah yang sama," tandasnya.Menurutnya yang berpengaruh besar dalam pilkada adalah Presidentialisasi Election yaitu faktor individu calon kepala daerah dan tim kampanye yang solid."Faktor tersebut terkait dengan citra calon. Jadi tidak cukup dengan isu sosiologis," tegasnya.Berkaitan dengan rendahnya partisipasi dalam pilkada, dikatakan Syaiful Mujani, hal itu dipengaruhi oleh dua faktor. Pertama, masyarakat terlalu kritis sehingga pesimis bahwa calon yang terpilih tidak akan berbuat apa-apa. Kedua, faktor geografis akibat daerah yang terpencil.
(san/)











































