Warga New Orleans Diungsikan Dengan Pesawat Terbang

Warga New Orleans Diungsikan Dengan Pesawat Terbang

- detikNews
Senin, 05 Sep 2005 07:11 WIB
Jakarta - Puluhan pesawat terbang dikerahkan untuk mengungsikan sekitar 10 ribu korban badai Katrina yang melanda AS. Proses pengungsian lewat udara ini merupakan proses evakuasi terbesar sepanjang sejarah Amerika. Sekitar 40 pesawat terbang terus mengudara untuk mengungsikan lebih dari sepuluh ribu orang dari New Orleans yang terbenam air.Korban meninggal dunia tergeletak di antara orang-orang yang menunggu untuk diungsikan di depan gedung Convention Centre New Orleans. Jumlah korban yang tewas diperkirakan mencapai ribuan orang meskipun angka tepatnya masih belum diketahui.Mereka yang diungsikan dengan bis dan helikopter tampak lemah lunglai setelah berhari-hari tidak mendapat makanan, air dan obat-obatan, dan tinggal berdesak-desakan di tengah-tengah sampah dan kotoran manusia.Di tengah bencana yang dialami masyarakat AS tersebut, kejahatan kian merajalela. Sebagian warga mengatakan mereka melihat pembunuhan dan perkosaan di tempat-tempat penampungan. Pelaku perkosaan sebagian besar adalah kawanan kriminal."Perkosaan banyak terjadi di sini. Kaum wanita harus ditemani laki-laki ke kamar mandi. Kalau tidak mereka akan diperkosa atau digorok," kata Africa Brumfield (32), kepada kantor berita Reuters seperti dikutip BBC, Senin (5/9/2005).Seorang prajurit Garda Nasional AS menceritakan hal yang senada. "Kami lihat seorang anak perempuan diperkosa dan dibunuh di kamar mandi. Pelakunya kemudian dikeroyok sampai mati," ujarnya.Namun pemerintah AS lewat Menteri Keamanan Dalam Negeri Michael Chertoff menjamin bahwa kemananan New Orleans telah terkendali, sepekan setelah huru-hara Katrina membawa kerusakan. "Pasukan AS sudah mengamankan kota dan operasi bantuan sedang berjalan," katanya.Ketika mengunjungi Louisiana, Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld menyadari diperlukan waktu bertahun-tahun sebelum kota tersebut benar-benar pulih. AS sendiri akhirnya meminta bantuan Uni Eropa dan NATO untuk menangani bencana ini. Sebelumnya, Presiden George W. Bush mengumumkan bahwa pemerintah akan menambah ribuan tentara ke daerah-daerah yang terkena badai dahsyat ini. Namun Presiden Bush banyak dikritik karena upaya pertolongan dari pemerintah tidak memadai. (ddn/)


Berita Terkait