Tokoh MMI Gandeng Nonmuslim Bentuk Gerakan Anti Terorisme

Tokoh MMI Gandeng Nonmuslim Bentuk Gerakan Anti Terorisme

- detikNews
Minggu, 04 Sep 2005 16:12 WIB
Jakarta - Selama ini, Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) sering dikaitkan dengan aksi peledakan oleh aparat maupun kelompok tertentu. Tapi, kini tokoh MMI, Fauzan Al-Anshari, menggandeng kelompok nonmuslim membentuk Gerakan Nasional Anti Terorisme (GNAT). Ini bukti MMI menolak terorisme dan aksi kekerasan. Rencananya, GNAT akan dideklarasikan Sabtu (10/9/2005) mendatang. Dalam deklarasi yang digelar di Gedung World Trad Center (WTC) itu, telah ditunjuk Din Syamsuddin, ketua umum PP Muhammadiyah dan wakil ketua umumi Majelis Ulama Indonesia (MUI), sebagai keynote speaker. Fauzan, kini menjabat Ketua Departemen Data MMI, saat dihubungi detikcom, Minggu (5/9/2005), menyatakan, keterlibatannya dalam pembentukan GNAT merupakan atas nama pribadi, bukan MMI. "Kami membentuk GNAT ini setelah melakukan pertemuan sebanyak lima kali," aku Fauzan, yang didapuk sebagai Sekjen GNAT ini. Tokoh yang dekat dengan Ustad Abu Bakar Ba'asyir ini mengaku, GNAT dideklarasikan dengan mengambil momentum peringatan 'Serangan 9 September' ke gedung WTC, AS. "Karena itu kita mendekrasikannya tanggal 10 September di gedung WTC, Jl. Sudirman, Jakarta," ungkap dia. Dalam deklarasi nanti, Fauzan mewakili kalangan muslim. Sedangkan para deklarator lainnya adalah Pdt. Shephard Supit (Kristen), Theopilus Bela MA (Katolik), Hartono Jusuf, SH (Buddha), I Made Jayarana (Hindu), Djaengrana Ongawijaya (Khonghucu), dan Drs. Ts. Kusumo (Agama Tao). "Kita semua sepakat membentuk gerakan ini setelah lima kali pertemuan. Kita sepakat bahwa terorisme merupakan musuh bersama. Agama Islam dan juga agama-agama lain menolak terorisme. Jadi, terorisme jangan terlalu mudah dikaitkan dengan orang-orang berjenggot sebagai pelakunya," ujar dia. Bagi GNAT, terorisme bukanlah hanya dimaknai sempit, hanya terkait aksi peledakan bom. "Kita memaknainya lebih luas. Apa saja yang dilakukan untuk kerusakan di muka Bumi ini adalah terorisme. Korupsi termasuk terorisme," kata Fauzan. Untuk memberantas terorisme, menurut Fauzan, penyebab munculnya terorisme, seperti ketidakadilan ekonomi, ketidakadilan hukum, dan ketidakadilan di bidang lainnya harus dihilangkan terlebih dulu. "Kita sepakat, tokoh-tokoh agama lain juga akan menyosialisasikan perlunya kebersamaan, tenggang rasa terhadap keyakinan bersama, dan tidak memaksakan kehendak dengan teror. Kita juga memberi masukan kepada polisi tentang UU 15/2003 yang hanya memaknai terorisme dalam skala sempit," kata dia. (asy/)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini