DetikNews
Minggu 16 Desember 2018, 18:28 WIB

'Kangen Gus Dur, Bapaknya Orang Tionghoa'

Gibran Maulana Ibrahim - detikNews
Kangen Gus Dur, Bapaknya Orang Tionghoa Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - PKB akan memperingati haul Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Wasekjen PKB Daniel Johan mengaku kangen dengan sosok yang disebutnya 'bapak' masyarakat Tionghoa itu.

"Gus Dur mengangkat kembali harkat dan martabat orang Tionghoa. Bukan hanya etnis Tionghoa saja, namun etnis-etnis lainnya yang tertindas juga selalu dibela oleh Gus Dur, jadi tidak heran Gus Dur diangkat sebagai 'Bapaknya orang Tionghoa'," kata Daniel kepada wartawan, Minggu (16/12/2018).

Daniel tak habis pikir dan salut dengan sikap Gus Dur yang disebutnya kerap membela kaum minoritas. Dia menceritakan bagaimana dahulu kaum Tionghoa banyak mendapat pembatasan.

"Bayangkan, seorang kiai yang juga Ketua Umum Nahdlatul Ulama yang diangkat sebagai Bapak Tionghoa. Itu karena saking cintanya kami kepada Gus Dur, dahulu akar budaya Tionghoa dicabut, penggunaan bahasa tidak boleh, sekolah-sekolah dibatasi. Hak-hak politik, hak-hak sosial, hak budaya diberangus. Seakan-akan Tionghoa itu diperlakukan seperti warga kelas dua. Dan itu buat kita tragis," tutur Daniel yang juga keturunan Tionghoa itu.


'Kangen Gus Dur, Bapaknya Orang Tionghoa'Foto: Daniel Johan muda dan Gus Dur (dokumen Daniel Johan)

Gus Dur, bagi Daniel, adalah guru bangsa yang dapat menjadi teladan bagi semua orang. Dari seluruh pemikiran dan kerja-kerja Gus Dur, jika diperas menjadi satu kata, intisari dari sosok Gus Dur menurutnya ialah pengabdiannya kepada kemanusiaan. Gus Dur, lanjut Daniel, mengajarkan bangsa ini tentang mengangkat harkat dan martabat kemanusiaan di tempat yang tinggi. Gus Dur sangat mencintai kemanusiaan.

Besok siang, Daniel menyebut PKB akan memperingati haul Gus Dur yang ke-9. Daniel lanjut menceritakan sosok Gus Dur yang menurutnya amat humanis dan nasionalis yang begitu mencintai rakyatnya tanpa membeda-bedakan agama, suku, dan latar belakangnya. Gus Dur, kenang dia, membuat keislaman menjadi begitu indah dan dicintai, bahkan oleh umat lain.

Sifat humanis dan nasionalis inilah yang menurut dia diwariskan Gus Dur ke PKB. PKB, kata Daniel, memandang penting menjadi besar untuk mewujudkan nasionalisme dan kemanusiaan yang berkeadilan sosial tersebut.

Anggota Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin ini menceritakan pengalamannya diundang Gus Dur ke Istana. Saat itu, dia diundang untuk sarapan.

"Waktu beliau jadi presiden, saya pernah diundang ke Istana hanya untuk makan pagi. Bangga dan senangnya minta ampun, Saya diberi pesan katanya, 'suatu saat kamu harus ikut besarkan PKB'. Itu tahun 2000 dan saya bukan siapa-siapa. Saya hanya anak muda biasa," kenang Daniel.


Saat mendapat pesan dari Gus Dur, Daniel masih belum berpolitik dan belum masuk PKB, bahkan, itu tak pernah menjadi pertimbangannya. Daniel menyebut dirinya hanyalah seorang aktivis.

"Tapi saat itu Gus Dur sudah bicara bahwa 'saya ingin Tionghoa juga bisa menjadi pemimpin yang baik dan dicintai', saya waktu itu belum kepikiran sama sekali menjadi pemimpin dan tidak terbayang Tionghoa bisa jadi pemimpin," sebut anggota DPR itu.

Wakil Ketua Komisi IV DPR itu menyebut dirinya dan PKB ingin terus memperjuangkan semangat Gus Dur. Kepada pemerintah Indonesia, dia mengatakan PKB terus mengajukan agar Gus Dur dinobatkan sebagai pahlawan. Tahun ini, Gus Dur belum mendapatkannya.

Harapan PKB, tahun depan Gus Dur benar-benar dianugerahkan sebagai pahlawan nasional, meskipun sekarang ini rakyat sudah menganggap Gus Dur sebagai Bapak Bangsa Indonesia. Dengan semua ceritanya dan kondisi bangsa yang menurutnya saat ini penuh kekisruhan, Daniel mengaku sangat kangen dengan sosok Gus Dur.

"Dan di saat situasi kebangsaan Indonesia saat ini penuh dengan kekisruhan, saya merasa sangat rindu dengan Gus Dur, dengan rangkulan humanismenya dan rasa humornya," pungkasnya.
(gbr/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed