DetikNews
Minggu 16 Desember 2018, 17:30 WIB

OPM Pecah Sejak Dini, Siapa Pimpinan Tertingginya Kini?

Danu Damarjati - detikNews
OPM Pecah Sejak Dini, Siapa Pimpinan Tertingginya Kini? Foto: PVK (Korps Sukarelawan Papua), embrio tentara OPM, mengambil bagian dalam pawai tradisional untuk pertama kalinya dalam sejarah, 30 April 1962. Ada Gubernur Nieuw Guinea Belanda, dr Platteel. (Kantoor voor Voorlichting en Radio Omroep Nieuw-Guinea)
Jakarta - Organisasi Papua Merdeka (OPM) merupakan sebutan umum yang memayungi semua gerakan pemisahan diri Papua dari Indonesia. OPM sendiri tidak satu. Organisasi itu sudah pecah sejak masa awal berdirinya.

Organisasi Perjuangan Menuju Kemerdekaan Negara Papua Barat bentukan Terianus Aronggear di Manokwari pada 1964 menjadi embrio OPM, baik yang melakukan perlawanan lewat cara politis maupun perlawanan bersenjata. Untuk sayap bersenjatanya, ada personel Papua Vrijwillegers Korps (PVK) memperkuat pasukan mereka.

PVK adalah Batalyon Sukarelawan Papua yang dibentuk pemerintahan kolonial Belanda di Papua tiga tahun sebelumnya. Karena Perjanjian New York mengamanatkan agar Papua diserahkan ke Indonesia lewat PBB, maka PVK kemudian dibubarkan oleh Indonesia. Personel-personel PVK masuk menjadi kelompok bersenjata OPM, yang kemudian menamakan dirinya sebagai Tentara Nasional Pembebasan Papua Barat (TPN PB).



Oleh karena gerakan perlawanan bersenjata saat itu tidak terorganisir, maka didirikanlah Markas Victoria di Distrik Waris tahun 1970. Distrik Waris terletak di kawasan kaki pegunungan yang saat ini masuk Kabupaten Keerom, Papua.

Empat orang dari Markas Victoria ini selanjutnya bakal punya peranan penting dalam gerakan OPM. Mereka adalah Seth Jafeth Roemkorem, pria asal Biak, anggota militer Indonesia yang pernah menjalani pendidikan Sekolah Calon Perwira Bandung lulusan 1964. Orang kedua adalah Jacob Prai, putra pelosok Keerom pertama yang berhasil masuk Universitas Cenderawasih, menempuh pendidikan hukum. Orang ketiga yakni John Otto Ondawame, orang Amungme dari Mimika yang merupakan anak didik Prai. Terakhir, ada Rex Rumakiek asal Biak yang pernah belajar di Pulau Jawa.

OPM Pecah Sejak Dini, Siapa Pimpinan Tertingginya Kini?Foto: Dua tokoh OPM, Seth Roemkorem dan Jacob Prai (Buku John RG Djopari)

Pada 1 Juli 1971, Markas Victoria memproklamirkan kemerdekaan Papua Barat. Seth Jafeth Roemkorem menjadi Presiden pertama pemerintahan sementara, Wakil Presidennya adalah Herman Womsiwor.

Namun lima tahun setelah didirikan, OPM pecah karena Jacob Prai menilai Seth Roemkorem haus kekuasaan. Prai menaruh curiga terhadap Seth yang punya latar belakang pendidikan militer Indonesia. Maka Prai dan gerbongnya memutuskan hengkang dari Markas Victoria dan mendirikan kelompok Pemulihan Keadilan (Pemka), sedangkan Seth tetap teguh di Markas Victoria (Mavic). Untuk masa selanjutnya, identifikasi OPM cenderung menyebut asal kelompok itu, yakni OPM Mavic atau OPM Pemka.

Kondisi internal OPM tersebut dijelaskan Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) dalam laporannya, 'The Current Status of The Papuan Pro-Independence Movement' pada 2015. Sentimen kesukuan juga memengaruhi perkubuan OPM Mavic dan OPM Pemka. Anggota dari Biak dan sekitarnya mengikuti Seth di Mavic, sedangkan anggota dari Keerom dan kawasan belahan selatan bergabung dengan Jacob Prai di Pemka.



OPM juga mengalami perpecahan pada aspek ideologis. Jon RG Djopari dalam buku Pemberontakan Organisasi Papua Merdeka tahun 1993 menjelaskan, kaum tua OPM cenderung berideologi Barat, tokohnya seperti Markus Kaisiepo, Nicolaas Jouwe, dan Herman Womsiwor. Sedangkan kaum muda OPM mengusung ideologi neo-Marxis/Sosialis, antara lain Ben Tanggahama, Saul Hindom, dan Jacob Prai.

Di dalam OPM sendiri meski sama-sama ingin merdeka dari Indonesia, namun ada perbedaan di dalamnya. Sebagian ingin merdeka tapi pro-Belanda, namun sebagian ingin merdeka tapi tidak pro-Belanda. Saat dekade 1970-an, militer Indonesia gencar melakukan operasi di Papua maka elite OPM banyak yang pergi ke luar negeri. Elite yang pro-Belanda ikut pulang bareng orang-orang Belanda ke Negeri Kincir Angin saat UNTEA menyerahkan Papua ke Indonesia. Sebagian tokoh-tokoh OPM yang lain menyebar ke pelbagai negara. Kendali OPM dari luar negeri dinilai semakin tidak efektif.

"Gerakan OPM sangat terdesentralisasi, terdiri dari banyak faksi dan kompetisi satu sama lain. Di depan media, mereka menampilkan citra yang paling familiar tentang angkatan gerilya. Namun pada praktiknya, satu komando dalam tubuh OPM adalah hal yang mustahil, soalnya OPM terdiri dari kombinasi klan dan loyalitas etnis, persilangan personal, berada di medan terpencil, dan punya agenda masing-masing. Unit-unit dan komandan sillih berganti tanpa banyak disertai komunikasi satu dengan yang lainnya," demikian kata IPAC, organisasi yang diawaki oleh peneliti tenar seperti Sidney Jones, Azumardi Azra, hingga Todung Mulya Lubis.

Pada dekade '80-an, Kelly Kwalik muncul sebagai pemimpin OPM Mimmika. Aksi kejinya pada 1986 yakni menculik dan membunuh 8 pendaki. Pada Januari 1996, dia menculi 26 orang peneliti flora-fauna termasuk 6 warga negara Asing di Mapenduma Kabupaten Nduga. Kopassus pimpinan Prabowo Subianto melancarkan operasi pada 9 Mei 1996 dan menyelamatkan 11 sandera OPM.



Usai peristiwa Mapenduma, kelompok Kelly Kwalik masih terus bikin onar, yakni penembakan-penembakan di kawasan Freeport. Pada 2009, Kelly tewas ditembak aparat. Kepemimpinan Kelly diteruskan Ayub Waker, Teny Kwalik, dan Germanus Elobo.

Di kawasan Puncak Jaya, Goliath Tabuni muncul sebagai pemimpin OPM sejak ketibannya pada 2004. Puncak Jaya berubah menjadi kawasan paling berbahaya. Di Kabupaten Puncak ada Militer Murib, Puron Wenda dan Enden Wanimbo di Lanny Jaya, Mathias Wenda dan Richard Hans Yoweni di pesisir utara, Danny Kogoya di Jayapura (meninggal di Papua Nugini), serta Lambertus Pekikir di Keerom dan kawasan perbatasan Papua Nugini.

IPAC melihat OPM terpecah oleh klan dan kepentingan pribadi, tak ada satu komando pusat, dan punya banyak kelompok berbasis luar negeri seperti Pasifik, Eropa, dan Amerika Serikat. Kelompok luar negeri berfungsi menghimpun dukungan internasional untuk kemerdekaan Papua.

Kelompok-kelompok politik juga didirikan untuk menyatukan gerakan yang terpisah-pisah. Berikut adalah kelompok-kelompok itu:

1. WPNA (West Papua Nasional Authority) didirikan tahun 2004 untuk memayungi semua organisasi politik OPM. Pendirinya adalah Edison Waromi, Jacob Rumbiak, dan Herman Wanggai.

2. WPNCL (West Papua National Coalition for Liberation) diddirikan oleh OPM Pemka, Otto Ondowame, di Vanuatu Papua Nugini pada 2005. Mathias Wenda menjadi komandan tertinggi WPNCL. Mereka ingin menjadi sayap politik OPM, namun tak semua OPM bersenjata setuju. Mereka yang tak setuju adalah Goliath Tabuni dan Kelly Kwalik.

3. The Free West Papua Campaign didirikan oleh Benny Wenda di Inggris tahun 2000. Benny adalah pria kelahiran Wamena yang pernah ditangkap aparat tahun 2002 karena diduga mendalangi serangan di kantor polisi kawasan Abepura. Namun dia berhasil melarikan diri ke Papua Nugini dan memperoleh suaka politik di Inggris.

4. KNPB (Komite Nasional Papua Barat) didirikan sebagai organisasi politik radikal pada 2008. Sejak 2012, Victor Yeimo tampil sebagai pemimpinnya. Pada Mei 2012, KNPB mencoba membangun ikatan dengan kelompok bersenjata OPM dengan menggelar pertemuan di Biak dan menunjuk Goliath Tabuni sebagai komandan tertinggi. Namun Goliath sendiri tak tertarik.

5. ULMWP (United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) didirikan pada 6 Desember 201 oleh WPNA, WPNCL, dan KNPB. Benny Wenda menjadi juru bicara ULMWP. Organisasi ini mendapatkan status pemantau (observer) Melanesian Sparehead Group (MSG), namun Indonesia sendiri juga menjadi anggota di MSG.

Apa kata pihak OPM era kini?

Juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN PB) OPM, Sebby Sambom, menjelaskan komando mereka ada di tangan panglima tertinggi. Mereka menyebut panglima tertinggi adalah Goliath Tabuni, wakil panglimanya adalah Gabriel M Awom.

OPM Pecah Sejak Dini, Siapa Pimpinan Tertingginya Kini?Foto: Goliath Tabuni, disebut-sebut sebagai Panglima Tertinggi TPNPB OPM. (Dok TPNPB/Wikimedia Commons)

"Komandan Operasi Perang adalah Mayjen Lekagak Telenggen dan selanjutnya (diarahkan) ke Komando Daerah Pertahanan (Kodap). Kita mempunyai 29 Kodap di seluruh wilayah teritori West Papua (sebutan mereka untuk Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat)," kata Sebby kepada detikcom.



Sebby yang berada di Vanimo Papua Nugini ini juga menjelaskan, Egianus (Ekianus) Kogoya merupakan Panglima Kodap III Ndugama, Papua. Egianus merupakan sosok dibalik penembakan keji terhadap pekerja proyek Trans Papua pada 1 Desember 2018 kemarin. Polri menyatakan Egianus bergerak atas restu sosok berinisial PU.

Sosok PU ini disebut sebagai panglima kelompok kriminal sipil bersenjata itu. Namun Sebby membantah adanya sosok PU itu, karena dia menyatakan tak ada panglima tertinggi lain selain Goliath Tabuni. Benarkah demikian?


(dnu/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed