Liberalisme Agama Tak Mungkin Terjadi Terhadap Agama Wahyu
Sabtu, 03 Sep 2005 19:47 WIB
Jakarta - Liberalisme agama tidak mungkin terjadi terhadap agama yang memiliki kitab suci berdasarkan wahyu. Liberalisme agama hanya mungkin untuk agama yang tidak mendasarkan kekuatan pada kitab suci karena tidak mampu menjamin serta mempertanggungjawabkan otentisitas kitab suci mereka.Kemajemukan dan keagamaan merupakan keniscayaan di muka bumi. "Dan, saya berpendapat kemajemukan dan keagamaan adalah sunnatullah karena Allah menciptakan manusia dalam keberagaman atas dasar bangsa, suku, ras, dan agama. Al-Quran juga menyebutkan agama-agama," kata Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin saat memberikan ceramah di depan peserta Muktamar XIII Persatuan Islam (Persis) di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Sabtu (3/8/2005). Muktamar berlangsung dari tanggal 3 hingga 5 September nanti.Tetapi, lanjut Din, wacana pluralisme keagamaan yang berkembang dewasa ini telah menyeleweng karena dibelokkan ke arah sinkretisme agama atau pencampuradukan perbedaan agama-agama dan satu persamaan. Padahal, setiap agama memiliki perbedaan yang kalau dileburkan dalam satu persamaan dapat menumbuhkan anggapan dan pandangan bahwa semua agama sama-sama benar karena menuju Tuhan yang sama. "Hanya penamaan yang berbeda, sehingga kebenaran agama menjadi bersifat relatif," ujar Din.Sinkretisme dan relativisme, tekan Din, tidak sesuai dengan akal pikiran sehingga sangat berbahaya karena justru bertentangan dengan hak asasi manusia. Inilah yang dikritik para ulama yang kemudian difatwakan lewat Majelis Ulama Indonesia. "Pluralisme yang dibelokkan kepada sinretisme dan relativisme bertentangan dengan ajaran agama Islam. Bukankan kita hidup dalam keragaman yang koeksistensi." Ditambahkan, terhadap pihak umat Islam yang mengembangkan pemahaman dan pemikiran seperti ini kemudian dikategorisasi pihak-pihak yang luar dengan sebutan semisal Islam liberal. Tetapi, labelisasi tersebut malah kerap menimbulkan masalah karena tidak sesuai fakta. Liberalisme agama, sambung Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia ini, sesuatu yang tidak mungkin terjadi terutama terhadap agama yang berdasarkan wahyu. Liberalisme agama hanya dapat digunakan oleh agama yang tidak mempunyai kekuatan ajaran pada kitab suci karena mereka tidak bisa menjamin dan mempertanggungjawabkan otentisitas kitab suci mereka. Untuk agama yang seperti ini, umat hanya menjadikan kitab suci sebagai sumber inspirasi sehingga mereka pun berusaha mengembangkan paham-paham keagamaan secara bebas atau liberal tanpa pernah mau mengakui ketidak-otentikan kitab suci mereka. "Paham-paham ini tidak lagi kitabi tetapi berdasarkan pada theologi dan filsafat," ujarnya.Berbeda dengan umat Islam yang masih mempunyai Al Quran yang secara historis, akademis, dan substantif terjamin dan terpertanggungjawabkan keotentisitasannya. Kaum orientalis senantiasa gagal mencari titik lemah agama Islam dalam sejarah pertumbuhan, perkembangan, dan penyebarannya. "Oleh karena itu, tidak ada alasan mengembangkan pikiran yang meninggalkan traktat Al Quran dan Al Hadits," utur Din. Kata Din, kalangan yang menyebut diri Islam liberal secara akademik cenderung meninggalkan Al Quran dan Al Hadits. Mereka antara lain mengemukakan beberapa tesis seperti bahwa agama hanyalah organisme hidup yang menumbuh dan berkembang menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. "Terhadap gejala seperti ini, tidak perlu digubris karena menghabiskan energi dan membuang waktu karena masih ada tugas-tugas dakwah kultural yang lebih berat dan luas," tukas Din.
(mar/)











































