PSI Vs Rommy soal Larangan Poligami

ADVERTISEMENT

PSI Vs Rommy soal Larangan Poligami

Arief Ikhsanudin, Kanavino Ahmad Rizqo, Samsudhuha Wildansyah - detikNews
Sabtu, 15 Des 2018 21:49 WIB
Foto: Ketum PPP Romahurmuziy (Rommy). (dok PPP)
Jakarta - Riuh rendah perdebatan larangan poligami yaang disampaikan Ketua Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie terhadap kadernya terus berlanjut. Perdebatan bahkan makin meluas ke ranah politik dan menyeret Ketum PPP Romahurmuziy yang notabenenya adalah sejawat politik PSI di koalisi Joko Widodo-Ma'ruf Amin.

Larangan poligami ini pertama kali disampaikan Grace dalam acara Festival 11 di Jatim Expo, Surabaya, Selasa (11/12). Grace mengatakan tidak akan merestui kader, pengurus, dan anggota legislatif dari PSI mempraktikkan poligami.

"Karena itu, PSI tidak akan pernah mendukung poligami. Tak akan ada kader, pengurus, dan anggota legislatif dari partai ini yang boleh mempraktikkan poligami," kata Grace.


Grace kemudian mengungkap salah satu hasil penelitian terkait poligami. Menurut dia, poligami menjadi salah satu sumber ketidakadilan bagi perempuan.

"Riset LBH APIK tentang poligami menyimpulkan bahwa pada umumnya praktik poligami menyebabkan ketidakadilan perempuan yang disakiti dan anak yang ditelantarkan," ucapnya.

Perempuan mantan jurnalis itu tak main-main dengan larangan poligami tersebut. Jika partainya melenggang ke parlemen, Grace mengatakan PSI akan menjadi yang pertama berjuang untuk merevisi UU Poligami.

Namun penolakan terhadap larangan tersebut rupanya muncul sejak dini. Adalah Nadir Amir sebagai salah satu kader PSI di Bone, Sulsel, yang merasa terganggu dan mengancam akan mundur dari partai pasca Grace menyampaikan larangan poligami untuk kader PSI.

Penolakan Nadir terhadap larangan yang disampaikan oleh Grace itu didasarkan pada alasan pribadi. Nadir mengaku ayahnya mempunyai empat orang istri.

"Bagaimana tidak, keluarga saya ada yang poligami. Bapak saya punya empat istri, om saya dan sepupu saya juga ada yang poligami. Lingkungan keluarga saya mulai risi dengan aturan itu," kata Ketua DPC PSI Kecamatan Cina, Kabupaten Bone, itu saat berbincang dengan detikcom, Jumat (14/12).


Perdebatan larangan poligami itu ternyata tak hanya melibatkan internal PSI. Diskursus poligami ini semakin meluas ke ranah politik internal koalisi Jokowi-Ma'ruf.

Salah satu kritik muncul dari Ketum PPP Romahurmuziy yang menilai larangan poligami PSI itu dapat merugikan capres yang diusungnya, Jokowi. Pria yang karib disapa Rommy itu meminta PSI untuk tidak menjadi beban bagi Jokowi.

"Saya mengimbau rekan-rekan di PSI untuk tidak justru menjadi dirinya sebagai beban sehubungan dengan positioning strategy yang mereka lakukan melabelkan Jokowi sebagai anti-Islam," kata Rommy di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (15/12/2018).


Rommy menjelaskan selama ini Jokowi selalu lekat dengan tudingan anti-Islam. Karena itu, dia meminta untuk setiap rekan-rekan parpol koalisi untuk lebih bisa mengendalikan pernyataannya.

"Karenanya, saya menyampaikan ini agar menjadi yang terakhir kalinya oleh kader-kader PSI," ujarnya.

"Ini tidak ada urusan Jokowi dan Prabowo. Ini soal keyakinan umat Islam. Saya mengingatkan agar rekan-rekan pimpinan parpol bisa mengendalikan kader-kadernya dalam mengeluarkan pernyataan-pernyataan agar tidak menyinggung agama atau suku mana pun," imbuh Rommy.


Pernyataan Rommy itu kemudian disikapi PSI secara tegas. Juru bicara PSI, Guntur Romli, menegaskan larangan poligami itu merupakan sikap PSI, bukan sikap koalisi Jokowi-Ma'ruf.

"Aturan larangan poligami itu internal untuk mengurus PSI, PPP nggak boleh ngomong dong. PSI punya hak untuk memberikan aturan kepada pengurus dan kader PSI. PPP urus saja PPP, jangan urus PSI," kata Guntur kepada wartawan di restoran Gado-Gado Boplo, Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (15/12).

Guntur yakin kebijakan PSI itu tidak akan berpengaruh terhadap elektabilitas sang petahana. Sebutan Jokowi anti-Islam juga disebutnya tidak berlaku karena cawapres Jokowi adalah Ma'ruf Amin. (knv/hri)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT