detikNews
Sabtu 15 Desember 2018, 20:37 WIB

Saat Jokowi Panggil Acak Warga yang Ingin Luapkan Aspirasi

Ray Jordan - detikNews
Saat Jokowi Panggil Acak Warga yang Ingin Luapkan Aspirasi Foto: Jokowi (Dok. Kantor Staf Presiden)
Pekanbaru - Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta masyarakat meluapkan aspirasi dan memberikan usulan konkret kepada dirinya. Seperti apa kejadiannya?

Hal itu terjadi saat Jokowi menghadiri Pagelaran Budaya Masyarakat Riau di GOR Pekanbaru, Jl Jenderal Sudirman, Kota Pekanbaru, Riau, Sabtu (15/12/2018). Saat pidato, Jokowi memanggil dua orang secara acak untuk didengarkan aspirasi dan usulannya.

"Saya ingin ada yang maju," kata Jokowi.

Mendengar pernyataan Jokowi, seisi ruangan GOR menjadi riuh. Banyak orang yang mengangkat tangan sambil berteriak. Jokowi kemudian menujuk satu pria dan satu wanita.

Pertama, pria yang mengenakan kaus warna merah bernama Ramses Kristian Purba. Saat diminta bicara oleh Jokowi, Ramses tampak bingung.

"Bingung saya mau ngomong apa karena seumur hidup saya baru ketemu sama Bapak Presiden Joko Widodo. Saya dari Sibolga, orang Batak," katanya dengan antusias.

Kemudian, perempuan berkerudung hijau bernama Maisyitoh. Wanita ini ternyata merupakan Ketua Pimpinan Wilayah Fatayat NU Provinsi Riau.

"Saya asli orang Bugis, Sulawesi Selatan, tapi hidup di Riau, tinggal di Riau," katanya.


Untuk diketahui, salah satu tema yang diangkat dalam Pagelaran Budaya Melayu Riau ini yakni budaya para perantauan. Kegiatan ini banyak dihadiri oleh para perantau di Riau.

"Coba kita lihat, saya tadi memanggil Ramses dan Bu Masyitoh ini tidak tahu dari mana dari mana. Saya melihat karena ini tadi semangat, loncat-loncat, saya suruh ke sini. Bu Masyitoh juga di sana semangat sekali saya suruh ke sini," kata Jokowi.

Dari hal itu, Jokowi mengatakan Riau merupakan wajah Indonesia yang dipenuhi dengan keberagaman.

"Ada dari Batak, Bugis, Melayu. Saya sekarang sudah jadi Melayu. Jadi Melayu, Bugis, Batak. Saya melihat dari pagi tadi dari seluruh Tanah Air ada semua. Ada dari Sunda, Jawa, Aceh, Jakarta, dari seluruh penjuru Tanah Air ada di Provinsi Riau ini," katanya.

Jokowi pun meminta agar masyarakat menjaga kerukunan, persatuan dan kesatuan yang dianugerahkan Allah SWT untuk NRKI. Setelah itu, Jokowi meminta warga yang dia undang itu untuk memberikan saran kepada dirinya.


Pertama, disampaikan oleh Maisyitoh. "Saya guru, atas nama guru, terutama guru-guru honorer. Saya dari tahun 95 di Pondok Pesantren Darul Hikmah. ... karena guru yang mendidik anak bangsa, guru yang mengangkat derajat negeri ini dari segi ilmu pengetahuan. Mohon dibantu guru, Bapak," katanya.

"Usulan konkretnya apa?" tanya Jokowi.

Maisyotoh mengatakan dirinya meminta agar guru-guru honorer dibantu karirnya, terutama untuk data base yang berkaitan dengan CPNS.

"Dibantu guru-guru honorer untuk dikeluarkan databasenya kembali seperti yang lalu-lalu, yang sudah mengabdi lama," katanya.

Selain itu, dia juga meminta agar 'derajat' sekolah swasta dan negeri disamakan. "Kemudian untuk pendidikan, sekolah-sekolah swasta disamaratakan dengan negeri, tidak dianaktirikan," katanya.

"Apa artinya dianaktirikan? Saya belum sambung," tanya Jokowi.

"Sekolah negeri dari segi pembangunan, fasilitas, kemudian tunjangan kinerja guru-gurunya itu sangat diperhatikan baik dari segi intensif dan segala macamnya. Buku dan semuanya itu sangat diperhatikan. Tapi sekolah swasta itu berjuang sendiri, Pak. Karena saya kepala sekolah," jelas Maisytoh.

"Baik, baik. Terima kasih Bu Masyitoh masukannya," jawab Jokowi.
(jor/mae)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed