Isu Reshuffle Makin Tunjukkan Ketidakharmonisan SBY-JK
Sabtu, 03 Sep 2005 16:09 WIB
Jakarta - Perbedaan pernyataan antara Presiden SBY dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla tentang reshuffle kabinet kian menunjukkan adanya hubungan yang tidak harmonis di antara mereka. Begitu pula dengan pernyataan Menko Perekonomian Aburizal Bakrie tentang kenaikan BBM."SBY bilang reshuffle, JK bilang tidak. SBY bilang naik BBM nanti, Menko Perekonomian bilang segera. Ini terlihat ada komunikasi yang tidak baik, seperti ada persaingan kekuasaan," kata pengamat politik Sukardi Rinakit kepada wartawan di Mario's Place, Jl Menteng Raya, Jakarta, Sabtu (3/9/2005).Seperti diketahui, SBY akan mengevaluasi kabinet dua bulan lagi. Sementara Kalla menegaskan, tidak akan ada perombakan kabinet. Pada Rabu sore, SBY juga mengisyaratkan BBM akan naik setelah Oktober. Sedangkan Aburizal Bakrie menyatakan, bisa jadi BBM naik pada pertengahan September iniMenurut Sukardi, harus disadari bahwa presidenlah yang mempunyai mandat kekuasaan. Dengan demikian, wakil presiden sebaiknya hati-hati dalam memberikan pernyataan ke publik karena dapat menimbulkan dugaan bahwa telah terjadi konflik. "Dalam budaya politik, kalau Wapres (Jusuf Kalla) sebagai orang kedua banyak komentar malah menghancurkan image dia sendiri di satu sisi. Sepertinya punya target politik di tahun 2009," jelas Sukardi.Pengamat komunikasi politik Tjipta Lesmana menganalisis, terlihat ada perjanjian terselubung antara SBY dengan JK. "SBY saya lihat kaki tangannya diikat. SBY mungkin lupa dia yang presiden mesti yang pegang komando," kritik Lesmana.
(mly/)











































