"Pak Prabowo yang surveinya dari 25 persen sekarang 40 persen, Pak Jokowi dari 58 persen sekarang sudah di bawah 50 persen. Lalu itu kan menunjukkan respons positif, bukan imajinasi, tapi adalah keinginan aspirasi dari masyarakat. Mungkin dari Para Syndicate yang berimajinasi, sehingga tak menangkap keinginan masyarakat," kata juru bicara BPN Prabowo-Sandi, Andre Rosiade, saat dihubungi, Jumat (14/12/2018).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pak Prabowo berarti menyuarakan aspirasi masyarakat, bahwa masyarakat menginginkan terciptanya lapangan kerja, masyarakat ingin harga bahan pokok terjangkau, ingin pemimpin memberantas korupsi di Republik Indonesia, ingin pemimpin menyelesaikan kasus Novel Baswedan. Itu yang dijadikan program Pak prabowo," tutur dia.
"Kalau memang Pak Prabowo berimajinasi, tentu respons masyarakat tidak positif. Sekarang survei Pak Prabowo sudah di atas 40 persen, survei Pak Jokowi yang 58 persen sudah di bawah 50 persen," tambah Andre.
Pengamat Para Syndicate, Bekti Waluyo, sebelumnya menyebut slogan kubu Prabowo dinilai terlalu abstrak. Kampanye kubu Prabowo-Sandiaga dibandingkan dengan kampanye Jokowi yang dinilai memberikan data dan fakta, sedangkan timses dari nomor urut 02 dinilai hanya menawarkan mimpi dan imajinasi.
"Ketika Pak Jokowi berikan data, Pak Prabowo berikan mimpi, imajinasi. Jadi, kalau kita tarik garis, jadi capaian-capaian yang dari Pak Jokowi kemudian cukup dilompatkan menjadi sesuatu yang lebih besar lagi. Ketika bicara Indonesia maju, kita diajak untuk harus lihat merasakan majunya seperti apa," jelasnya. (idn/fdn)











































