Demo Tolak Kenaikan BBM, Mahasiswa UII Yogya Ajukan 2 Opsi

Demo Tolak Kenaikan BBM, Mahasiswa UII Yogya Ajukan 2 Opsi

- detikNews
Sabtu, 03 Sep 2005 12:12 WIB
Yogyakarta - Baru rencana, tapi sudah didemo. Itulah nasib rencana kenaikan harga BBM. Setelah sebelumnya Gerakan Mahasiswa (Gema), kini puluhan mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta menggelar aksi demo.Mereka menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) seperti halnya Gema. Mereka mengajukan dua opsi yakni segera me-reshuffle tim ekonomi atau presiden segera turun dari jabatannya.Aksi yang digelar hari ini Sabtu (3/8/2005) pukul 10.00 WIB dimulai dari kampus UII di Jl Cik Di Tiro Yogyakarta. Selanjutnya mereka menggelar aksinya di perempatan Jl Sudirman, sekitar 100 meter dari kampus dengan melakukan orasi dan membagi-bagikan selebaran kepada pemakai jalan yang melintas ditempat tersebut.Beberapa poster yang dibawa di antaranya bertuliskan 'RAPBN 2005 tidak prorakyat, pancung Burhanuddin Abdullah, reshuffle tim ekonomi, tolak kenaikan BBM." Mahasiswa juga membawa spanduk sepanjang bertuliskan tiga tuntutan mahasiswa yakni reshuffle tim ekonomi, tolak kenaikan BBM dan tolak intervensi asing.Koordinator aksi Andi Wijaya dalam orasinya mengatakan, empat paket kebijakan pemerintah yang disampaikan Presiden SBY sangat tidak populer dan tidak berpihak kepada rakyat. Sebaliknya paket kebijakan tersebut justru memihak kepada kepentingan kapitalis asing."Menaikkan harga BBM itu jelas sekali kebijakan yang tidak populis dan tidak pro rakyat serta tidak akan menyelesaikan masalah saat ini dan jauh dari hati nurani rakyat," kata Andi.Dia mengatakan, paket kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah sangat kental dengan skenario yang dimainkan tim ekonomi SBY-JK dan para kapitalis asing dengan tujuan untuk menguasai sumber daya alam di Indonesia.Oleh karena mahasiswa mengajukan dua pilihan yakni me-reshuffle tim ekonomi atau presiden turun dari jabatannya. Selain itu, defisit anggaran disebabkan oleh tidak mampu pemerintah terutama tim ekonomi membaca situasi. Contohnya ketika harga minyak dunia mencapai 65 dollar per barel, pemerintah justru menetapkan dengan harga 40 dollar per barel.Hal itu jelas tidak realistik. Akibatnya ketika terjadi krisis yang ditandai jatuhnya nila tukar rupiah, rakyatlah yang menjadi korban. Subsidi dicabut dan harga BBM dinaikkan, privatisasi aset-aset negara dan mencari pinjaman hutang luar negeri."Ini sebuah paradoks dan lagi-lagi rakyatlah yang dijadikan korban. Bila BBM naik, otomatis harga kebutuhan pokok juga akan naik," kata Andi disambut yel-yel reshuffle kabinet.Setelah melakukan orasi, aksi diakhiri dengan pembacaan pernyataan sikap yakni segera pemerintah SBY merombak kabinet karena nyata-nyata telah gagal dan tidak mampu bekerja. Selanjutnya menolak kenaikan harga BBM serta menolak privatisasi BUMN. Menolak utang baru, segera dihapuskannya hutang lama dan menolak segala bentuk intervensi asing. (nrl/)


Berita Terkait