Harga Sembako di Palembang Mulai Naik
Kamis, 01 Sep 2005 22:50 WIB
Palembang - Melejitnya nilai dolar atas rupiah dalam dua pekan ini, menyebabkan bahan kebutuhan pokok di Palembang mulai melonjak. Di pasar tradisional maupun di pengecer, terutama warung atau toko, harga gula pasir, minyak sayur, beras mulai mengalami kenaikan. Misalnya beras dengan kualitas menengah, yang sebelumnya dijual Rp 66-67 ribu per karung yang berisi 25 kilogram, kini dijual seharga Rp 70 ribu per karung. Sementara beras dengan kualitas rendah -beras lokal- yang biasa dijual Rp 55-56 ribu per karung berisi 25 kilogram kini dijual di eceran seharga Rp 58-60 ribu per karung. Sementara gula pasir yang sebelumnya dijual berkisar Rp 6.200 per kilogram kini dijual seharga Rp 6.500 per kilogram. Begitu juga dengan minyak sayur mengalami kenaikan dari Rp 5.400 menjadi Rp 5.600 per kilogram. "Dari agennya mengalami kenaikan. Saya tidak tahu mengapa turut naik, yang jelas barang-barang lain mengalami kenaikan, jadi kami terpaksa menjualnya dengan harga baru," kata Syamsuddin, pedagang sembako di Pasar Lemabang kepada detikcom, Kamis (1/9/2005). Pengakuan yang sama dikatakan Khodijah, pedagang sembako di Pasar Plaju. "Naik semua, mulai dua hari kemarin kami saat mengambil stok dari agen sudah dinaikkan. Ya, beginilah kalau dolar naik barang juga turut naik. Makanya Presiden SBY harus pinter-pinter ngurus negara," katanya. Bahan bangunan juga mengalami kenaikan. Misalnya harga semen merk Semen Padang yang sebelumnya dijual Rp 30-31 ribu per sak, kini dijual Rp 31-32 ribu per sak. Begitu pun dengan harga batu bata yang sebelumnya Rp 250 per buah menjadi Rp 300 per buah. "Kami hanya mengikuti harga dari agen. Kata mereka dolar juga mempengaruhi bahan baku dan angkutan. Ya, kami jual juga naik," kata Sulaiman, pemilik kios bangunan di Jalan Pusri-Patal Palembang. Bahkan, harga rokok merk tertentu juga mengalami kenaikan di eceran. Bila biasanya dijual Rp 7.000 per bungkus kini dijual Rp 7-8 ribu per bungkus. Popularitas Presiden SBY di Palembang terasa menurun selama kenaikan nilai dolar atas rupiah. Hampir setiap warga, baik di kendaraan umum, warung kopi maupun di kantor-kantor membicarakan soal kondisi ekonomi. "Kalau tidak pintar, kita bisa menjadi korban seperti masa krismon kemarin," kata seorang pegawai negeri di lingkungan Pemerintah Kota Palembang. "Percuma dapat gaji 13 kemarin kalau juga habis karena kenaikan barang seperti sekarang ini," tambahnya.
(atq/)











































